Cari Blog Ini

Kamis, 18 Agustus 2016

Indonesia Darurat Imperialis

PETISI : Indonesia Darurat Imperialis #SaveNKRI #SaveTNI-POLRI-BNN

JAKARTA- (17/8/2016) Tujuh puluh satu tahun Indonesia Merdeka. Benar, qt sdh 71 tahun menikmati alam kebebasan, mjd negara yg merdeka dan berdaulat. Namun, sejatinya qt blm merdeka scr hakiki. Qt baru merdeka scr fisik, tdk lagi dijajah oleh Belanda dan Jepang scr militer. Penjajahan dlm bentuk lain masih mencengkeram bangsa Indonesia. Qt blm merdeka scr ekonomi, politik dan budaya.

Sistem ekonomi qt bukan Ekonomi Pancasila yg berbasis kerakyatan, tp mengarah pd ekonomi kapitalis yg individualistik. Politik qt jg bukan Politik Pancasila yg santun dan beradab, tp politik kotor dg menghalalkan segala cara. Budaya qt jg bukan Budaya Pancasila yg luhur dan religius, tp budaya qt saat ini adl budaya Barat yg hedonis dan materialis.

Penjajah memang tdk lagi menguasai Indonesia scr fisik dan militer, tp mereka menggunakan propaganda dan kaki tangannya utk ttp mengendalikan bangsa Indonesia. Propaganda yg dilakukan para penjajah bertujuan utk melemahkan benteng2 negara, yaitu institusi TNI sbg penjaga kedaulatan, dan institusi Polri sbg penjaga keamanan serta ketertiban. Upaya memberikan citra negatif terhadap TNI-POLRI dan institusi negara secara sistematis dilakukan oleh negara-negara kapitalis penjajah dan para pendukungnya. Bahkan upaya ini menjadi rekomendasi utama dalam berbagai laporan lembaga-lembaga pemikir ( think-tank ) mereka.

Islam sbg kekuatan penjaga NKRI disamping TNI-POLRI, jg tdk lepas dr upaya pelemahan. Tdk dpt dipungkiri bahwa negara ini didirikan oleh para pendahulu dg teriakan takbir dan darah para ulama serta santri. Sehingga, melemahkan kekuatan TNI-POLRI dan Islam adl cara paling efektif utk ttp melanggengkan penjajahan di bumi Pertiwi ini.

Rekomendasi Ariel Cohen, dalam rilis yang diterbitkan The Heritage Foundation menulis: AS harus menyediakan dukungan pada media lokal untuk membeberkan contoh-contoh negatif dari aplikasi hukum yg berbau syariah Islam, seperti hukuman mati utk bandar narkoba di Indonesia, jg termasuk hukuman untuk kejahatan ringan atau kepemilikan alkohol di Chechnya, keadaan Afghanistan di bawah Taliban atau Saudi Arabia, dan tempat lainnya. Perlu juga diekspose perang sipil yang dituduhkan kepada gerakan Islam di Aljazair. (An Emerging Threat to US Interests in Central Asia ).

Hal senada direkomendasikan Cheryl Benard. Menurutnya, ada beberapa ide yang harus terus-menerus diangkat untuk menjelekkan citra TNI-POLRI dan Islam: perihal demokrasi dan HAM, poligami, sanksi kriminal, keadilan Islam, isu minoritas, pakaian wanita, dan kebolehan suami untuk memukul istri. ( Civil Democratic Islam, Partners, Resources, and Strategies, The Rand Corporation, halaman 1-24 ). Negara2 kapitalis penjajah ini rela menghabiskan dana puluhan juta dolar AS untuk melakukan propaganda negatif. (Lihat: David E Kaplan, ”Hearts, Minds, and Dollars”, http://www.usnews.com,
25/4/2005 ).

Untuk melakukan propaganda sistematis ini negara-negara kapitalis kemudian memanfaatkan kelompok-kelompok yang menjadi komprador (kaki tangan) negara penjajah ini. Para komprador ini kemudian membuat LSM-LSM yang secara sistematis dan terus-menerus menyudutkan institusi TNI-POLRI dan mendeskreditkan Islam dan memberikan citra negatif terhadap umat Islam di Indonesia.

Ironisnya, di sisi lain, LSM-LSM ini diam terhadap perlakukan kejam negara-negara penjajah kapitalis Barat, padahal mereka mengklaim sebagai pendukung dan penegak demokrasi dan HAM. Mereka diam terhadap pembunuhan ratusan ribu rakyat sipil di Irak, Afganistan, Palestina, dan negeri negeri Islam lain yang dilakukan oleh AS dan sekutunya yang mengklaim sebagai penegak demokrasi. Mereka juga diam terhadap penangkapan, pemenjaraan, dan penyiksaaan manusia yang dituduh secara sepihak oleh AS sebagai teroris.

Mereka diam terhadap ulah AS di Guantanamo (Kuba) dan penjara-penjara lainnya. Kelompok-kelompok ini mengecam hukuman mati dan menentang perda2 syariat Islam akan membawa penderitaan bagi rakyat.
Namun, mendukung habis-habisan kebijakan negara kapitalis dan liberal seperti AS, meskipun itu membuat penderitaan yang mendalam bagi rakyat Indonesia.

Lihat saja LSM-LSM komprador yg ada saat ini spt KontraS dan JIL _yg baru2 ini disorot ats isu pengakuan terpidana mati kasus narkoba, Freddy Budiman. Terlepas dr benar tidaknya pengakuan tsb, yg pasti institusi TNI-POLRI dan BNN babak belur dibully netizens. Tingkat kepercayaan masyarakat thd ketiga institusi tsb jg menurun. Padahal ketiga institusi tsb adl ujung tombak terdepan dlm menjaga keutuhan, keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah NKRI.

KontraS yg dipimpin oleh Harris Azhar bgtu semangat menyoroti keburukan2 perilaku oknum TNI-POLRI dan BNN. Mereka bgtu getol membela korban2 sipil atas nama HAM, tp diam saja tatkala ada anggota TNI yg dianiya dan disiksa hingga tewas menggemaskan di Bandung. KontraS seolah buta thd nasib tragis anggota Polri yg disiram air keras pd saat mengamankan kerusuhan suporter sepakbola di stadion utama GBK bbrapa waktu lalu.

Harris Azhar dg KontraS nya nampak menggunakan standar ganda dlm perjuangan nya. Sayang sekali, media cetak dan elektronik ikutan latah menyukseskan propaganda busuk para penjajah. Televisi dan koran rupanya ikut terbawa arus "Jebakan Batman" yg dipasang para penjajah dan antek2nya. Netizens dan akun2 FB palsu tdk kalah kompak bergerak, situs dan portal berita abal2 ikut memanaskan suasana.

Wahai, bangsa Indonesia yg sdh 71 th merdeka. Ingat dan sadarlah bahwa penjajah blm pergi dr Indonesia. Mereka tdk rela melepaskan cengkeraman nya ats kekayaan alam bumi Pertiwi. Mari bangkit dan bersatulah, jaga NKRI, perkuat institusi TNI-POLRI dan BNN utk menuju Indonesia yg betul2 merdeka, berdaulat, aman, sejahtera dan bermartabat. MERDEKA....?!

#71thRIkerjaNyata #PolriBagiNegeri

Salam #DamaiIndonesiaKoe (Arif Yuswandono /Bharindo News).

Memimpin adalah Menderita

Memimpin adalah Menderita

KEBUMEN- (8/8/2016) Leiden is Lijden _Memimpin adl Menderita_ Bila ditelusuri, istilah tersebut akan kita temukan dlm karangan Mohammad Roem yg mengisahkan kepemimpinan dan keteladanan Haji Agus Salim. Karangan itu berjudul "Haji Agus Salim, Memimpin Adalah Menderita" (Prisma No. 8, Agustus 1977) mengisahkan dlm percakapannya dg Mohammad Roem dan Haji Agus Salim, Kasman Singodimedjo mengatakan memimpin itu adl jalan yg menderita. Bahasa Belandanya "Een leidersweg is een lijdensweg". Leiden is lijden. Dlm Bahasa Belanda ada dua kata yg berbunyi sama, namun ditulis berbeda: leiden (memimpin) dan lijden (menderita).

Mohammad Roem mengenang Haji Agus Salim sosok yg dikenal pandai tentang agama Islam dan mahir menggunakan berbagai bahasa ini, sebagai potret pemimpin yg mau menderita. Menderita yg dimaksud, hidup serba dipenuhi kekurangan dan keterbatasan secara materi.

Tentang kesederhanaan Agus Salim, Roem mencatat, bahwa rumahnya, seperti rumah perkampungan, sama sekali tidak mencerminkan seorang tokoh terkenal seperti qt bayangkan. Agus Salim sendiri tidak punya tempat tinggal tetap, sehingga ia dan keluarganya hidup berpindah-pindah. Padahal Agus Salim adalah sosok yang menentukan dalam Syarekat Islam, sebuah organisasi politik dan pergerakan yang berpengaruh pada masanya, dan kalangan pemuda-pemuda Muslim Jong Islamieten Bond, suatu perkumpulan elite Muslim terpelajar pada masanya.

Apa makna dari memimpin itu menderita? Pemimpin harus rela berkorban lebih besar ketimbang yg dipimpin. Pemimpin selalu dituntut untuk memiliki tanggung jawab lebih. Pemimpin tidak boleh mengeluh, optimis dan pantang menyerah --termasuk kala sudah powerless sekalipun. Jalan penderitaan yang dimaksud ialah jalan kesederhanaan dan jalan kemanusiaan. Ato jalan pedang spt yg ditempuh Miyamoto Musashi dlm novel Jepang karangan Eiji Yoshikawa.

Manusiawi sekali --bahkan ketika orang banyak menghujatnya dan melupakannya. Pemimpin ialah yang mengamalkan prinsip peribahasa yg sudah cukup populer dikenal di sini, "berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian". Pemimpin ideal adl pemimpin yg berproses dan mengalami fenomena pasang naik dan pasang surut sepanjang sejarah kepemimpinannya. Ia bukan pemimpin yang instan. (M Alfan Alfian, Pelita Hati).

Bahkan sejarah para Nabi pun bukan perjalanan yg jauh dari menderita, terutama ketika mereka memimpin umatnya dan membentuk komunitas ilahiah. Para Nabi bahkan butuh waktu lama dan penuh cobaan untuk mendapatkan pengikut. Lihat Nabi Nuh AS, hampir 1000 th menyeru kpd ketauhidan, namun hanya mendapatkan kurang dr 100 pengikut. Nabi Musa AS yg harus menempuh perjalanan dr Mesir smp Syam dg perilaku ummatnya yg menjengkelkan.

Juga Nabi Muhammad SAW, yg menempuh penderitaan sejak sblm diangkat sbg Nabi dan Rasul. Terlahir sbg anak yatim, usia 6 th ditinggal ibunya, 8 th ditinggal kakeknya, hingga hidup bersama pamannya Abu Thalib smp menikah. Menjalani 13 th fase dakwah di Makkah dg penuh pertentangan. Dimusuhi kerabatnya, diusir dr kampung halaman, diancam hendak dibunuh dan diasingkan di sebuah lembah tanpa makanan dan minuman selama hampir dua tahun.

Memimpin adl Menderita. Kredo Agus Salim itu seperti air jernih yang mengalir dari hulu sungai ketulusan zamannya. Segera terbayang penderitaan Jenderal Soedirman yang memimpin perang gerilya di atas tandu. Setabah gembala ia pun berpesan, ”Jangan biarkan rakyat menderita, biarlah kita (prajurit, pemimpin) yang menderita.”

Zaman sudah terjungkir. Suara-suara kearifan seperti itu terasa asing untuk cuaca sekarang. Kredo pemimpin hari ini, ”Memimpin adalah menikmati”. Menjadi pemimpin berarti berpesta di atas penderitaan rakyat. Demokrasi Indonesia seperti baju yang dipakai terbalik: mendahulukan kepentingan lapis tipis oligarki penguasa-pemodal ketimbang kepentingan rakyat kebanyakan (demos).

Banyak orang berkuasa dengan mental jelata; mereka tak kuasa melayani, hanya bisa dilayani. Bagi pemimpin bermental jelata, dahulukan usaha menaikkan gaji dan tunjangan pejabat; bangun gedung dan ruangan mewah agar wakil rakyat tak berpeluh-kesah; transaksikan alokasi anggaran untuk memperkaya penyelenggara negara dan partai; pertontonkan kemewahan sebagai ukuran kesuksesan; utamakan manipulasi pencitraan, bukan mengelola kenyataan. (Yudi Latif, Makrifat Pagi).

Malu rasanya melihat perilaku pemimpin2 qt saat ini. Bukan kinerja dan pelayanan yg mjd prioritas, tp kemewahan dan pencitraan yg senantiasa mereka pertontonkan. Perilaku busuk dan kotor dg bongkar pasang koalisi mjd hal biasa utk melanggengkan kekuasaan. Tuntutan fasilitas mulai dr kendaraan, perumahan, tunjangan komunikasi dan uang saku mjd hal yg selalu mereka ributkan. Sementara isak tangis rakyat yg kelaparan, masyarakat yg tergusur dan pemuda yg kehilangan pekerjaan hanya dianggap sbg dengungan nyamuk yg menjengkelkan. Menghamburkan uang rakyat atas nama kunjungan kerja dan studi banding tdk lebih hanya sekedar jalan2 tanpa hasil yg berarti.

Jk pemimpin qt saat ini jauh dr jalan penderitaan, maka jgn harap ada keberhasilan. Krn kemajuan dan kesuksesan hanya bisa didapatkan dg kerja keras dan keprihatinan. Contoh lah Amirul Mukminin, Umar bin Khattab yg menolak menikmati makanan yg dikirim Gubernur Mesir, Amr bin Ash kala itu, dg mengatakan,"Kenyangkan dulu rakyatmu, sehingga jk org paling miskin sdh menikmati makanan spt ini baru aku, Amirul Mukminin bersedia memakannya".

Duhai para penguasa bumi Pertiwi, 71 tahun sudah qt merdeka, sdh waktunya qt bangkit dan bersatu mjd bangsa yg besar dan bermartabat, dimana rakyatnya hidup aman dan sejahtera. Semuanya harus dimulai dr perilaku pemimpin yg peduli dan melayani. Yg amanah dan tdk serakah. Yg lemah lembut kpd rakyat nya namun tegas kpd asing penjajah. Yg berani menderita demi kehormatan dan kewibawaan bangsa, bukan yg merendah dan menjilat hanya demi bantuan dan pinjaman. Jayalah Indonesia, sejahtera bangsaku. MERDEKA...!!!

Salam #DamaiIndonesiaKoe #PolriBagiNegeri #71TahunKerja Nyata (Arif Yuswandono /Bharindo News).

Rabu, 17 Agustus 2016

Aksi Ibu Kapolri kibarkan Merah Putih di Dalam Laut

Bhayangkari-bhayangkari Negeri Pengibar Sang Merah Putih di Bawah Laut

Raja Ampat- (17/8/2016) " Selain tugas pokok utama sebagai Ibu Rumah Tangga serta sorang istri  yang selalu siap siaga memback-up semua kegiatan Suami sebagai Anggota Polri, Bhayangkari-bhayangkari Negeri ini ternyata mampu mengibarkan Sang Merah Putih di bawah laut Raja Ampat, Papua Barat".

Aksi heroik ibu-ibu Bhayangkari tersebut di pimpin langsung oleh Ibu Tri Suwasi, Istri dari Kapolri Jendral.Pol. Drs. Tito Karnavian, yang sekaligus sebagai Ketua Umum Bahayangkari, beliau memimpin langsung ibu-ibu bahayangkari serta para penyelam lainnya untuk mengibarkan bendera merah putih di bawah Laut Saunek Raja Ampat, Papua Barat, dalam rangka perayaan Kemerdekaan RI ke-71 (Rabu, 17 Agustus 2016).
demi untuk Indonesia dan Hut Kemerdekaan RI, kegiatan ekstrim serta sangat beresiko tinggi ini ternyata tak menyurutkan semangat dan keberanian para Ibu-ibu Bhayangkari.

Ibu-ibu Bhayangkari lainnya yang turut hadir dalam kegiatan tersebut   antara lain istri Kapolda Gorontalo Dona Hengky, istri Kapolda Papua Barat Lily Royke Lumowa, istri Kapolda Papua Roma Waterpaw, istri kapolda Sulawesi Tengah Luly Sufahriadi dan istri Wakapolda Bangka Belitung Shinta Istiyono.

Sebelum mengibarkan bendera di bawah laut, para peserta sudah berlatih terlebih dahulu menyelam di setiap wilayah selama beberapa hari. Bahkan para anggota Bhayangkari juga memeriksa kesehatan dan menjaga stamina dengan berolah raga, serta mengikuti aturan dari instruktur.

ibu Tri Suwasti berharap penyelenggaraan upacara kemerdekaan di bawah laut dapat menarik minat masyarakat khususnya kaum perempuan mengikuti olahraga selam.
Di samping itu kegiatan tersebut membantu promosi wisata laut dan budaya di Indonesia sehingga meningkatkan nasionalisme sebagai Warga Negara Indonesia. selanjutnya Ibu Tri Suwasti juga menuturkan Indonesia memiliki berbagai keindahan sumber daya alam seperti Laut Raja Ampat yang terkenal di dunia dan menarik turis mancanegara.

selain kegiatan pengibaran bendera merah putih dibawah laut tersebut, para pengurus Bhayangkari juga menggelar bakti sosial dengan menyumbangkan alat tulis dan buku bacaan untuk murid sekolah dasar (SD) di Kampung Yenbuba dan Arborek Raja Ampat.
"kegiatan Ini dilaksanakan sebagai rasa cinta Bhayangkari kepada Indonesia yang kaya dengan keindahan alamnya, salah satunya keindahan bawah laut Raja Ampat yang sangat terkenal di dunia," kata Tri dalam siaran pers Divisi Humas Polri.

terlepas apapun dinamika dan opini masyarakat, harus diakui betapa luar biasa keberanian Ibu-ibu Bhayangkari ini, walau dalam kesibukan sehari-hari disibukkan urusan menata rumah tangga, memback-up semua kebutuhan suami sebagai anggota Polri, ternyata masih sanggup melaksanakan giat tambahan yang lumayan beresiko tinggi, menyelam di dasar laut untuk mengibarkan Bendera Merah Putih.

Salut dan sukses untuk Bhayangkari-bhayangkari Negeri, tak henti-hentinya mengukir prestasi dan pengabdian untuk Negeri Indonesia, Negeri kita yang tercinta.

Bravo Polri, Bravo Untuk Bhayangkari Negeri....
#PolriBagiNegeri
#71thRIkerjanyata

Penak Jamanku To...???

Setiap perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia saya selalu teringat sosok ini...

Keuangan Negara Bocor Rp 262,5 T

Dompet Negara Bolong Rp 262,5 Triliun Jelang Hari Kemerdekaan

Jakarta- (17/8/2016) Realisasi defisit sampai 5 Agustus 2016 telah mencapai 88,5 persen dari target defisit Rp296,7 triliun atau 2,35 persen terhadap PDB. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realisasi defisit anggaran negara hingga 5 Agustus 2016 mencapai Rp262,5 triliun atau 2,08 persen terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Realisasi itu telah mencapai 88,5 persen dari target defisit Rp296,7 triliun atau 2,35 persen terhadap PDB.

Tingginya defisit anggaran hingga minggu pertama Agustus disebabkan oleh realisasi belanja yang tak diimbangi oleh jumlah pendapatan yang masuk, terutama yang berasal dari penerimaan perpajakan.

Berdasarkan keterangan resmi Kemenkeu yang dikutip Selasa (16/8), realisasi penerimaan per 5 Agustus 2016 tercatat sebesar Rp775,2 triliun atau 43,4 persen dari target Rp1.786,2 triliun. Sementara, realisasi belanja negara telah mencapai Rp1.037,6 triliun atau 49,8 persen dari pagu Rp2.082,9 triliun.

Dari sisi penerimaan, per 5 Agustus 2016 sektor perpajakan baru mencapai Rp618,3 triliun atau 40,2 persen dari target Rp1.539,2 triliun. Perolehan ini lebih rendah dari realisasi periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp626,7 triliun atau 42,1 persen dari target Rp1.489,3 triliun.
Realisasi penerimaan perpajakan itu berasal dari penerimaan pajak sebesar Rp542,1 triliun atau 40 persen dari target Rp1.355,2 triliun, dan penerimaan bea dan cukai sebesar Rp76,2 triliun atau 41,4 persen dari target Rp184 triliun.

Adapun realisasi penerimaan negara bukan pajak tercatat sebesar Rp155,7 triliun atau 63,5 persen dari target Rp245,1 triliun. Capaian ini lebih tinggi dari perolehan tahun lalu sebesar Rp155,5 triliun atau 57,8 persen dari target Rp269,1 triliun.

Dari pos belanja negara, belanja pemerintah pusat baru mencapai Rp585,7triliun atau 44,8 persen dari pagu Rp1.306,7 triliun. Sementara transfer ke daerah dan dana desa mencapai Rp452 triliun atau 58,2 persen dari pagu Rp776,3 triliun.

Realisasi belanja pemerintah pusat terdiri dari realisasi belanja Kementerian/Lembaga (K/L) sebesar Rp323,7 triliun atau 42,2 persen dari pagu Rp767,8 triliun dan belanja non K/L sebesar Rp262 triliun atau 46,6 persen dari pagu Rp538,9 triliun. (Safyra Primadhyta, CNN Indonesia).

INDONESIA ; SIAGA SATU...!!!

Status Indonesia : SIAGA SATU...!!!

YOGYAKARTA - (10/8/2016) Tahun ini, genap 71 tahun Indonesia Merdeka. Banyak pejabat di negeri ini, termasuk Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla, bersikap seolah-olah negeri ini sedang baik-baik saja, padahal negeri ini sesungguhnya sedang dalam bahaya.

Pertama: Adanya ancaman gerakan separatisme (pemisahan diri), khususnya Papua. Pada tanggal 13 Juli 2016, Kongres Nasional Papua Merdeka (KNPM) melakukan demonstrasi di Kota Jayapura. Mereka menuntut Papua lepas dari Indonesia. Salah satu jalan yang ditempuh adalah berupaya menjadi anggota penuh Melanesia Spearhead Group (MSG). Sekalipun demikian, KTT MSG di Honiara, Kepulauan Solomon, pada 14 Juli 2016 menolak keanggotaan penuh United Liberation Movement for West Papua pada organisasi Melanesia tersebut.

Sayang, Pemerintah tidak bersikap tegas terhadap organisasi separatisme seperti Organisasi Papua Merdeka (OPM), juga terhadap aksi-aksi yang mendukung separatisme Papua. Padahal aksi serupa dilakukan hampir setiap bulan; pada 13 April 2016, 31 Mei 2016 dan 1 juni 2016.

Mantan Mendikbud Anies Baswedan mengatakan, gerakan separatis muncul dari kegundahan masyarakat Papua. Kata Anies, mereka merasa tingkat kesejahteraan dan akses pendidikan di kawasan itu masih rendah ( Kompas.com , 15/7/2016).

Hal ini barangkali ada benarnya. Namun persoalannya, sesuai UU, Dana Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat sangat besar, yakni Rp 7,057 triliun; 70% (Rp 4,940 triliun) untuk Provinsi Papua dan 30% (Rp 2,117 triliun) untuk Provinsi Papua Barat. Itu belum termasuk dana-dana lainnya yang jumlahnya tidak kalah besar. Lalu kemana semua dana itu?

Di sisi lain, kekayaan alam di Papua diserahkan oleh Pemerintah kepada pihak asing. Inilah yang menjadi salah satu alasan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) menuntut referendum ( Merdeka.com, 2/2/2015). Kebijakan Pemerintah yang menyerahkan kekayaan Papua kepada pihak asing secara tidak langsung sama dengan mendorong kemunculan gerakan separatisme (pemisahan diri) masyarakat Papua.

Anehnya, penyerahan kekayaan oleh Pemerihtan kepada asing itu terus berlanjut. Saat ini Pemerintah tengah dalam proses melelang dan menawarkan pengelolaan setidaknya 14 blok migas baru. Kemungkinan sebagian besar blok itu akan jatuh ke tangan swasta asing.

Penguasa di negeri Muslim terbesar ini terkesan membiarkan dan tidak tegas terhadap gerakan separatisme. Sekadar contoh, dalam RUU Revisi UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme disebutkan bahwa yang termasuk tindak terorisme adalah "orang yang membantu melepaskan wilayah atau daerah lain dari suatu negara sahabat untuk seluruhnya atau sebagian dari kekuasaan pemerintah yang ada di negara tersebut" (Pasal 12B, ayat 3). Sebaliknya, orang atau kelompok orang yang justru melakukan aktivitas melepaskan wilayah (separatisme) di dalam negeri tidak disebut sebagai pelaku tindak terorisme. Jadi sangat wajar bila ada yang menilai Pemerintah dengan sengaja membiarkan separatisme. Wajar juga jika muncul pertanyaan, revisi UU ini untuk siapa? Untuk melindungi bangsa ini atau pihak asing?

Kedua : Ancaman terhadap kedaulatan negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa rezim saat ini didukung oleh para konglomerat. Tentu istilah
no free lunch (tidak ada makan siang gratis) tetap berlaku. Artinya, dukungan para pengusaha besar tersebut kepada Pemerintah tidaklah cuma-cuma.

Atas prakarsa Menteri BUMN Rini Soemarno pada Juni 2015, misalnya, pada 16 September 2015, China Development Bank (CDB) memberikan utang senilai US$ 3 miliar kepada BRI, Mandiri dan BNI. Masing-masing bank mendapat US$ 1 miliar yang 70%-nya dalam bentuk dolar Amerika dan sisanya renminbi. Pinjaman ini bertenor 10 tahun. Tingkat bunganya 2,85 persen di atas London Interbank Offered Rate untuk pinjaman dolar. Adapun bunga pinjaman dalam bentuk renminbi 3,3 persen di atas Shanghai Interbank Offered Rate .

Awalnya uang US$ 3 miliar atau sekitar Rp 40 triliun dari CDB itu akan dialokasi untuk proyek infrastruktur. Nyatanya, utang sebesar itu hanya sepertiganya yang bakal digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Sebagian besarnya diserap oleh industri manufaktur dan perdagangan. Masalahnya, sebagaimana dipertanyakan oleh Ketua Komisi XI Ahmadi Noor Supit, pinjaman dari bank asal China tersebut terkonsentrasi pada beberapa perusahaan saja. Grup Sinar Mas mendapat kredit paling besar. Di antara penerima kucuran kredit juga ada grup Medco dan perusahaan milik keluarga Wapres JK.

Selain utang itu, Pemerintah juga mendapat komitmen kucuran utang dari China sebesar US$ 50 miliar atau sekitar Rp 700 triliun. Sebagian dari komitmen itu sudah disepakati pengucurannya untuk sejumlah proyek infrastruktur. Dengan bunga misalnya 2% selama 30 tahun, maka bangsa ini akan terbebani pembayaran bunga utang sebesar US$ 30 miliar, hampir Rp 400 triliun. Itu baru bunganya saja. Itu masih ditambah beban pembayaran utang Pemeritah pusat lainnya yang per Mei 2016 sudah mencapai Rp 3.323,36 triliun. Jelas, dengan utang sebsar itu, beban yang ditanggung rakyat makin besar.

Persoalan lainnya, utang dari China itu disertai dengan berbagai syarat yang makin merugikan bangsa ini. Di antara syaratnya adalah masuknya pekerja China untuk mengerjakan proyek-proyek investasi yang didanai dengan utang dari China.

Serbuan tenaga kerja China hampir pasti akan terjadi. Sebabnya minimal ada dua: (1) Pemerintah menyetujui masuknya pekerja China sebagai bagian dari syarat investasi dan pinjaman Pemerintah kepada China; (2) Berlakunya Masyarakat ASEAN plus China. Salah satu yang akan dibebaskan atau setidaknya dipermudah dan hambatannya dihilangkan adalah pergerakan tenaga kerja antar negara ASEAN plus China.

Apalagi ada rencana Pemerintah untuk membebaskan visa kepada warga negara China masuk ke Indonesia.

Faktanya, saat ini pendatang China terus meningkat, sebagiannya adalah para pendatang ilegal. Baru-baru ini Polresta Bogor, misalnya, dalam operasi gabungan dengan Kantor Imigrasi Kota Bogor berhasil menangkap 31 pendatang ilegal asal China (20/6/2016). Semua pendatang ilegal tersebut tidak ada yang bisa berbahasa Indonesia.

Padahal menurut Badan Pusat Statistika (BPS) tingkat pengangguran terbuka di negeri ini pada Februari 2016 mencapai 7,02 juta orang atau 5,5 persen. Dengan adanya serbuan tenaga kerja Cina itu maka persoalan pengangguran akan semakin parah. Tentu karena para pencari kerja di negeri ini harus bersaing dengan para pekerja luar negeri, terutama dari China tersebut. Jelas ini adalah ancaman nyata.

Sebetulnya, masih banyak problem lainnya yang melanda negeri ini. Contohnya adalah problem minimnya pemasukan negara, melebarnya defisit anggaran, ketergantungan pada impor, gejolak harga yang belum bisa dikendalikan, masih lemahnya pemberantasan korupsi dan seabrek problem lainnya termasuk institusi penjaga NKRI yg babak belur dihantam berbagai persoalan dr dalam dan dr luar. Semua problem dan beban itu harus dihadapi oleh rakyat negeri ini. Alhasil, negeri ini sedang dalam bahaya, dan tidak sedang baik-baik saja.

Bahkan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati di berbagai kesempatan menyampaikan bahwa ekonomi Indonesia dlm keadaan tdk baik. Kebijakan pertama nya tdk lama setelah diangkat mjd menteri adl memangkas anggaran hingga 133 triliyun rupiah. Itu artinya keuangan negara dlm keadaan darurat. Kebijakan Tax Amnesti, diakui tidak diakui adl cara pemerintah utk mendapatkan dana segar dlm waktu singkat.

Sepekan lagi bangsa Indonesia akan merayakan hari kemerdekaan nya yg ke 71. Serasa kering dan terkesan munafik memang, qt berpesta pora penuh kegembiraan namun sesungguhnya Ibu Pertiwi sdg tergeletak tak berdaya di ruang ICU. Wahai saudaraku sebangsa dan setanah air, sdh saatnya qt bangkit dan bersatu, saling jujur dan terbuka, saling bahu membahu dan bersama-sama menyelamatkan negeri ini dari kehancuran.

Marilah berdoa menirukan munajat para penjelajah bahari di kesilaman. ”Ya Tuhan, selamatkan kami. Lautan di Tanah Air ini luas dan ombaknya ganas menerjang. Bahtera kami oleng, sedang nakhodanya mencari selamat sendiri!”

Salam Kemerdekaan #DamaiIndonesiaKoe (Arif Yuswandono).

Mental Pengemis

Mental Pengemis

JAKARTA- (11/8/2016) Seorang sahabat yg tinggal di Australia bercerita ttg pengalamannya, "Suatu sore, sesudah menikmati secangkir capucino di Gloria Jeans Café yang capucino-nya paling enak (menurut saya), kami mampir ke toko roti. Membeli sebatang roti kismis dan minta kepada si mbak penjaga toko roti, untuk dipotongkan, sehingga nanti di rumah gampang, tinggal comot dan makan.

Selesai dipotong dan dibungkus rapi, lalu diserahkan kepada saya. Langsung saya berikan uang lembaran 10 dollar. Tapi ditolak dengan senyum manis, sambil berucap, ”It's free nothing to pay.”
“Are you sure?” kata saya.
Gadis remaja yang tugas jualan disana, menjelaskan, bahwa kalau sudah ditutup, roti tidak boleh lagi dijual. Boleh diberikan kepada siapa yang mau atau diantarkan ke Second Hand shop untuk orang yang membutuhkan.

Agak tercengang juga saya dengar penjelasannya. Terbayang, kalau di Indonesia, wah bisa bangkrut ini, karena orang bakalan menunggu toko tutup supaya dapat yang gratis.

Belum selesai ngobrol dg si mbak, tiba2 ada suami istri, yang juga mau belanja roti. Rupanya mereka tanpa saya sadari sudah mendengar percakapan kami. Kelihatan si Pria adalah orang Australia, sedangkan istrinya adalah tipe orang Asia. Si wanita juga minta roti di mbak, tapi di cegah oleh suaminya, sambil berkata _”No darling, please. We have enough money to buy. Why do we have to pick up a free one? Let’s another people who need it more than us take it."_

Wah... wah, merasa tersindir wajah saya panas… Egoisme saya melonjak ke permukaan, merasa tersindir dg perkataannya. Dlm hati saya bergumam, ”Hmm saya ini dulu pengusaha tau”.
Tapi, syukur cepat sadar diri, gak sampai terucapkan. Karena orang yg bicara suami ke istrinya, masa iya saya tiba2 nyelak ditengah tengah? Hampir saja saya berbuat kesalahan. Karena toh mereka tidak omongin saya… Kalau saya merasa tersindir, itu salah saya sendiri.

Hingga menjelang tidur, kata2 si Suami kepada istrinya masih tergiang2 rasanya, _"We have enough money to buy... why do we have to pick up a free one."_

Setelah saya renungkan, saya merasakan bahwa kata2 ini benar. Kalau semua orang yang punyai duit, ikut antri dan dapatkan roti gratis, yang biasanya diantarkan ke Second Hand Shop untuk dibagi bagikan gratis, berarti orang yang sungguh2 membutuhkan tidak bakalan kebagian lagi roti gratis.

Walaupun saya sesungguhnya mau membayar, namun si mbak yang nggak mau terima uang saya. Pelajaran hidup ini tidak mungkin akan saya lupakan.

*Kalau kita sanggup beli. jangan ambil yang gratis. Biarlah orang lain yang lebih membutuhkan mendapatkannya.*

Sungguh sebuah kepedulian akan sesama yang diterapkan dengan kesungguhan hati.
Kini saya baru tahu, kenapa kalau di club ada kopi gratis, tapi jarang ada yang ambil, mereka lebih suka membeli. Bukan karena gengsi2an, tetapi terlebih karena rasa peduli mereka pada orang lain, yang mungkin lebih membutuhkan.
Pelajaran yang sungguh sungguh memberikan inspirasi bagi diri saya.

Tuhan sudah memberikan berkah yg cukup utk qt, tidak perlu lagi qt mengambil bagian berkah yg diperuntukkan bagi orang lain. Ketika qt mendengar ada program pemerintah utk membantu org miskin, apa yg ada dlm benak qt? Apa qt akn ikut bersiasat agar mendapat bagian? Atokah qt merekayasa data agr kerabat dn saudara qt dpt bagian jg? Ato qt sok jd pahlawan dg mengajukan diri sbg pendamping program, tp dlm pikiran qt tersimpan niat busuk utk memperkaya diri sendiri?

Sahabat, kemiskinan bukan utk dipolitisir dan dieksploitasi. Org miskin dan kemiskinan adl ladang amal. Keberadaan org miskin adl cara Tuhan utk menguji sejauh mana kepedulian dan keimanan qt. "Jgn ngaku beriman jk tetangga kanan kirinya masih ada yg kelaparan".

Sementara kemiskinan adl mental yg mesti dirubah dan diberantas. Mental minta2, mental gratisan, mental pemalas, mental potong kompas, termasuk mental jualan data orang miskin, semua itu adl Mental Pengemis yg membuat bangsa ini rendah dan terhina, itulah kemiskinan kultural. Sdh saatnya qt bangkit dan sadar, tangan di atas lebih baik dr pd tangan di bawah. Menjaga harga diri lebih baik dr pd menjatuhkan kehormatan hanya demi sesuap nasi.

Pilihan ada pd qt sekarang, mau jd pecundang dg terus memelihara mental pengemis ato berjuang meriah kemerdekaan yg sesungguhnya dg mental perwira juara. "Maka nikmat Tuhan kamu yg manakah yg kamu dustakan?".

INDONESIA SIAGA SATU #SaveNKRI
Salam Kemerdekaan #DamaiIndonesiaKoe (Arif Yuswandono).