Cari Blog Ini

Senin, 29 Agustus 2016

AKP Hari Harjanto, SH : Perangi Narkoba Lewat Musik

KEBUMEN – (29/8/2016) Selain jago mengungkap peredaran narkoba di wilayah Kebumen, AKP Hari Harjanto, SH selaku Kasat Narkoba Polres Kebumen banyak yang tidak mengetahui sisi menarik bapak dua anak tersebut, Senin (29/08/2016).

Diluar kesibukanya sebagai polisi berpangkat perwira petama, yang menurut penuturannya masih dalam proses penyelesaiannya tesis tugas akhir sebagai mahasiswa program Magister Litigesi UGM yang didapatkan melalui beasiswa Mabes Polri itu ternyata dirinya mempunyai group musik Keroncong yang belum banyak orang ketahui.

Baru baru ini, group keroncong miliknya yang diberi nama “The Generation” mendapat kesempatan diundang untuk mengisi acara di pendopo Kebumen dalam yang di selenggarakan Pemkab Kebumen.
Group musik yang terdiri dari 10 personel dari latar belakang dan pekerjaan berbeda serta hobby yang sama, menurut pria kelahiran Semarang 1 Januari 1976 itu bukan suatu hambatan untuk berkarya.

Bahkan menurutnya, musik beraliran keroncong yang dibentuk kurang lebih tujuh bulan itu bukan hanya bermusik keroncong.

“Lewat musik yang kami mainkan, kami kampanyekan anti narkoba, dan hasilnya lebih mengena,” ucap Hari yang mempunyai hobi renang itu.

Bermodal ukulele yang dia mainkan bersama group keroncong “The Generation” siap mengkampanyekan anti narkoba sesuai intruksi pimpinan Polri.

Beserta group musiknya, menurut polisi yang lama tugas di Palu Sulawesi tengah, dirinya sangat terbuka jika ada yang akan mengkampanyekan narkoba melalui musiknya. “Siapa lagi yang peduli kepada generasi muda kalo bukan kita sebagai orang tua, masa depan anak muda yang bersih dari narkoba tanggung jawab kita bersama,” ucapnya.

Maka, dengan adanya “The Generation” kami berharap, kampanye anti narkoba lebih diminati, karena lagu yang disajikan merupakan lagu pop yang ngehits saat ini, tutupnya. (Arif Yuswandono /Bharindo News/Humas/reskbm).

#71thRIkerjaNyata
#PolriBagiNegeri
#HaloDunia
#SaveNKRI

Minggu, 28 Agustus 2016

Kita Pernah Punya Hoegeng

Kita Pernah Poenya Hoegeng

JAKARTA - (1/7/2016) Tahun 1955, Kompol Hoegeng Imam Santoso mendapat perintah pindah ke Medan. Tugas berat sudah menantinya. Penyelundupan dan perjudian sudah merajalela di kota itu. Para bandar judi telah menyuap para polisi, tentara dan jaksa di Medan. Mereka yang sebenarnya menguasai hukum. Aparat tidak bisa berbuat apa-apa disogok uang, mobil, perabot mewah dan wanita. Mereka tak ubahnya kacung-kacung para bandar judi.

Bukan tanpa alasan kepolisian mengutus Hoegeng ke Medan. Sejak muda dia dikenal jujur, berani dan antikorupsi. Hoegeng juga haram menerima suap maupun pemberian
apapun.

Maka tahun 1956, Hoegeng diangkat menjadi Kepala Direktorat Reskrim Kantor Polisi Sumut.
Hoegeng pun pindah dari Surabaya ke Medan. Belum ada rumah dinas untuk Hoegeng dan keluarganya karena rumah dinas di Medan masih ditempati pejabat lama.

Cerita soal keuletan para pengusaha judi benar-benar terbukti. Baru saja Hoegeng mendarat di Pelabuhan Belawan, utusan seorang bandar judi sudah mendekatinya.

Utusan itu menyampaikan selamat datang untuk Hoegeng. Tak lupa, dia juga mengatakan sudah ada mobil dan rumah untuk Hoegeng hadiah dari para pengusaha.
Hoegeng menolak dengan halus. Dia memilih tinggal di Hotel De Boer menunggu sampai rumah dinasnya tersedia.

Kira-kira dua bulan kemudian, saat rumah dinas di Jl Rivai siap ditinggali, bukan main terkejutnya Hoegeng. Rumah dinasnya sudah penuh barang-barang mewah. Mulai dari kulkas, piano, tape hingga sofa mahal. Hal yang sangat luar biasa. Tahun 1956, kulkas
dan piano belum tentu ada di rumah pejabat sekelas menteri sekalipun.

Ternyata barang itu lagi-lagi hadiah dari para bandar judi. Utusan yang menemui Hoegeng di Pelabuhan Belawan datang lagi. Tapi Hoegeng malah meminta agar barang-barang mewah itu dikeluarkan dari rumahnya. Hingga waktu
yang ditentukan, utusan itu juga tidak
memindahkan barang-barang mewah tersebut.

Apa tindakan Hoegeng?
Dia memerintahkan polisi pembantunya dan para kuli angkut mengeluarkan barang-barang itu dari rumahnya. Diletakkan begitu saja di depan rumah. Bagi Hoegeng itu lebih baik daripada melanggar sumpah jabatan dan sumpah sebagai polisi Republik Indonesia.

Hoegeng geram mendapati para polisi, jaksa dan tentara disuap dan hanya menjadi kacung para bandar judi. “Sebuah kenyataan yang amat memalukan,” ujarnya geram.

Jenderal Polisi ( Purn. ) Hoegeng Imam Santoso lahir di Pekalongan , Jawa Tengah , 14 Oktober 1921 –meninggal 14 Juli 2004 pada umur 82 tahun- adalah salah satu tokoh kepolisian Republik Indonesia yang pernah menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) ke-5 yang bertugas dari tahun 1968 - 1971.

Dirgahayu ke 70 Kepolisian Republik Indonesia.
Salam 86. (Arif Yuswandono /Bharindo News).

PERS ; antara INFORMASI dan OPINI

PERS ; antara INFORMASI vs OPINI

”Di zaman otoriter dulu, tidak ada orang yang percaya berita koran. Satu-satunya berita yang masih bisa dipercaya hanyalah berita yang dimuat di halaman 10. Di halaman 10 itulah, dimuat iklan dukacita. Bagaimana setelah reformasi, ketika pers menjadi terlalu bebas? Masyarakat malah lebih tidak percaya. Semua berita memihak. Halaman 10 pun tidak lagi dipercaya” ( Joke Gubernur NTB, KH. Dr. Zainul Majdi pd acara puncak Hari Pers Nasional, 9 Feb 2016 di Lombok).

Pd perkembangannya, koran dn media cetak lainnya tergeser oleh media elektronik spt radio dn televisi. Dn di era digital, dimana bumi serasa mjd kampung yg sgt kecil, media elektronik mulai digantikan perannya oleh media internet dg sgala macam varian produk nya spt web, aplikasi sosmed dn aplikasi berita lainnya.

Situs2 yg menampilkan berita dn informasi juta-an jumlahnya. Ini krn membuat portal berita di web lebih mudah dn murah dibandingkan mendirikan perusahaan penerbitan atau stasiun Televisi. Siapapun, baik perorangan maupun lembaga bisa membuat web yg memuat berbagai berita dn informasi. Kadang informasi tsb bohong dn tdk bs dipertanggungjawabkan.

Web dg situs berita on-line nya memang banyak yg tdk bisa dikategorikan sbg produk jurnalistik. Berita yg disajikan tdk ditulis oleh org yg memahami dasa2 ilmu jurnalistik, bahkan tdk mengindahkan etika jurnalistik.

Banyak berita yg disajikan tdk melalui proses yg benar. Tdk ada perencanaan, pencarian, penulisan, dan pengeditan berita. Berita diambil asal comot dg model capy paste dr sana sini. Dr sumber berita yg tdk bs dipertanggungjawabkan.

Dr sinilah kemudian muncul istilah HOAX. Informasi bohong ato sbagaian bohong tp krn dimuat berulang2, dn dicopas berkali2 sehingga nampak mjd berita yg benar. Berita yg disajikan bukan lagi murni informasi ttg suatu kejadian ttp sdh ke arah opini utk menggiring masyarakat ke pemikiran tertentu.

Media on-line, bahkan pers saat ini tdk lagi netral pembawa informasi, tp sdh memihak sbg pembawa opini utk kepentingan golongan tertentu. Misi pemilik yg menguasai media lebih dominan dr pd kepentingan masyarakat akn informasi yg tepat dn akurat.

Contoh terbaru adl berita seputar Kudeta Militer di Turki. Informasi2 yg qt dpt kan seringkali berlawanan antar media yg satu dg yg lain.

Berita seputar imigran dr Tiongkok jg tdk kalah heboh. Banyak media yg menyebutkan bahwa itu fakta, tp banyak pula yg menyebut itu hoax.

Bahkan berita seputar korban meninggal pd saat arus mudik lebaran kemarin ada yg menganggap sbg hoax.

Masyarakat dibuat bingung informasi yg berseliweran dr situs2 dn portal berita yg tdk jelas. Banyaknya situs berita abal2 dn tdk bs dipertanggungjawabkan ini yg membuat netizens slalu terpecah mjd dua kelompok. Kelompok yg pro dn kontra.

Bahkan efek dr pilpres kemarin masih terasa di dunia Maya hingga saat ini. Semua persoalan yg terjadi di tanah air selalu di kaitkan dg hasil pilpres 2014. Selalu muncul kelompok yg secara membabi-buta menyalahkan pemerintah tp ada jg kelompok yg habis2an membela pemerintah.

Kondisi tersebut tergambar dlm keberpihakan media elektronik /televisi dn situs2 berita di media on-line. Televisi dn media on-line nampak sekali terpecah menjadi dua. Ini tdk bisa qt pungkiri. Akhirnya pers tdk lagi murni pembawa berita (News) tetapi lebih penggiring opini (Views).

Dlm kondisi spt ini masyarakat hendaknya lebih cerdas utk melihat dn menyikapi. Lebih bijaklah memebaca berita dn berkomentar. Jgn lihat isi berita nya saja, tp cermati siapa membawa beritanya. Jgn asal copas kemudian disebarkan, tp lihat dlu alamat web yg memuatnya. Banyak web abal2 yg memuat berita hoax bermunculan di beranda FB Anda.

"Media adl entitas paling berpengaruh di dunia. Dia bs menjadikan yg benar mjd salah, dn bisa menjadikan yg salah mjd benar. Krn media mengendalikan pemikiran massa" , kata Malcolm X.

Salam #DamaiIndonesiaKoe

(Arif Yuswandono)

Sabtu, 27 Agustus 2016

Upaya Pembusukan Institusi Polri, Siapa Diuntungkan...?!

Upaya Pembusukan Institusi Polri, Siapa Diuntungkan...?!

Sahabat Indonesia tercinta...

Bbrpa hari terakhir ini qt disuguhi berbagai informasi negatif terkait kinerja Polri dan institusi nya. Mulai dr cuitan Harris Azhar (KontraS) yg mengutulip pengakuan terpidana mati narkoba, Freddy Budiman, kemudian berita oknum polisi yg menghajar penjaga warnet hingga yg terakhir berita seorang polwan Singkawang yg menampar pelanggar lalu lintas.

Khusus berita yg terakhir, sy pernah memuat klarifikasi dan laporan tertulis dr Brigadir Yusitasari, polwan yg menampar pelanggar lalin. Rupanya masih ada yg blm terungkap dr kejadian tsb.

Seorang sahabat saya, netizen dr Jawa Timur melakukan komunikasi langsung melalui WhatsApp dg Sang Polwan utk menggali lebih dlm ttg kejadian tsb secara detail. Dr situ terungkap bahwa ada upaya sistematis utk mendiskreditkan institusi polri dan anggota2nya.

Perlu diketahui bahwa pelanggar lalin adl seorang laki2 keturunan Tionghoa bernama Ahoi (dr nama di STNK), dia fasih berbahasa Tionghoa. Disamping tdk mengenakan helm dan dibawah pengaruh alkohol, dia jg tdk memiliki SIM. Nampak sekali dia sengaja memancing emosi dan masalah dg tdk mengindahkan teguran petugas utk mengenakan helm yg dijepit di jok motornya.

Bahkan, dia menunjukkan arogansi dan kesombongannya dg membantah setiap nasihat dr petugas. Bahkan mencaci petugas dg kata2 tdk sepantasnya dg bahasa Tionghoa. Tdk berhenti smp disitu, dia melakukan kekerasan fisik thd petugas wanita dg menarik2 rompinya dan menendang kakinya.

Kekerasan scr verbal dlm bahsa Tionghoa, misalnya _congnyame cibai_ (menurut seorang kawan, cibai dlm bhs Tionghoa brarti vagina _maaf).

Perekam kejadian dan pengunggah di YouTube jg keturunan Tionghoa bernama Cho Bui Tho, dg sengaja tdk menginformasikan scr lengkap detail kejadian, dia malah memberi komentar negatif thd video yg dia unggah.

Yg lebih mengagetkan adalah, pasca kejadian tsb rame di medsos, pihak pelanggar mendatangi Sang Polwan meminta uang ganti rugi senilai 50jt rupih. Pihak pelanggar mengancam akn melaporkan ke provost, jk permintaan tsb tdk dipenuhi.

Sahabat Indonesia tercinta...

Rentetan kejadian tsb mungkin tdk terorganisir, tp secara sporadis nampak ada upaya dr pihak2 tertentu utk terus menyudutkan dan melemahkan institusi polri. Satu kesalahan polisi di-blow up habis2an, tp sejuta kebaikan dan pengabdian polisi tdk dianggap bahkan ketika diunggah dianggap sbg pencitraan.

Institusi polri adl lembaga resmi negara yg keberadaan dan fungsinya jelas diatur dlm perundang-undangan, dibiayai dg uang negara. Institusi kepolisian sgt penting dan vital dlm menjaga dan menjamin rasa aman masyarakat.

Sdh sewajarnya qt sbg sesama anak bangsa ikut menjaga dan mengawasi institusi polri dr upaya pelemahan dan penghancuran. Akn ada pihak2 yg diuntungkan dg lemahnya institusi polri. Yaitu mereka yg mengambil manfaat dr setiap kekacauan dan ketakutan.

Mari, sahabat Indonesia tercinta, qt jaga bersama institusi polri tercinta. Qt bersihkan dr oknum nakal, dan qt lawan dr setiap upaya pembusukan.
Polri kuat rakyat aman, polri lemah masyarakat resah.

Salam Tribrata
#71thRIkerjaNyata
#polribaginegeri
#halodunia
#SaveNKRI

(Arif Yuswandono /Bharindo News).

Jumat, 26 Agustus 2016

Kapolres Klaten Pimpin Buatkan Rumah Ibu Lastari di Dolon, Bayat

Kapolres Klaten Pimpin Buatkan Rumah Ibu Lastari di Dolon, Bayat

Yogyakarta –(27/8/2016) Menyambut Hari Jadi Polwan ke-68 yang jatuh pada 1 September 2016 mendatang, Polres Klaten memperingatinya dengan melakukan kegiatan sosial yakni bergotongroyong membuat rumah bagi Ibu Lastari (52 th) yang tinggal di Dolon, RT 2/RW 7, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten, Jumat pagi (26/8/2016).

Kapolres Klaten, AKBP Faizal SIK MH bersama istrinya Ny Ratih Faizal, Ketua Bhayangkari Polres Klaten, memimpin langsung giat peduli masyarakat dengan turun tangan langsung dalam proses pembangunan rumah bagi Ibu Lastari yang tinggal sendirian dan tuna netra.

Berbaur dengan warga masyarakat dan 70-an Polwan Polres Klaten, Kapolres Klaten dan Istrinya tanpa canggung ikut menurunkan genting, mengangkut pasir, batu, dan mengusung paving block yang akan digunakan sebagai bahan pembuatan rumah dari pukul 07.30 WIB.

Semua dikerjakan dengan bergotong royong bersama puluhan Warga Dolon, tempat Ibu Lastari tinggal.

Sementara, Ibu Lastari sendiri selama 20-an tahun tinggal dan tidur di sebuah rumah tak layak huni berukuran 3×4 meter. Selama ini, jelas Faizal, Bu Lastari selalu mandi di rumah tetangganya dan ternak ayam ala kadarnya.

Keadaannya yang serba susah, tuna netra, belum menikah, menjadi prioritas Polres Klaten untuk turun tangan. Rumah tersebut  tak layak huni lagi dan dalam memperingati hari jadi Polwan ini, Polres Klaten terpanggil hatinya untuk membantu meringankan beban yang dipikul Ibu Lastari.

“Harapannya dengan program ini, Polres Klaten ingin berbagi dengan lingkungan. Masyarakat masih banyak yang membutuhkan bantuan kita. Kami dari Polres Klaten siap membantu program pemerintah Klaten dan langkah ini sudah seijin bupati, beliau Ibu Bupati Hj Sri Hartini sangat mendukung,” tandas Faizal di sela-sela acara peduli rumah tak layak huni.

Kapolres menambahakan program membangun rumah ini merupakan sumbangsih dari seluruh anggota Polres Klaten, nantinya rumah bu Lastari akan diluaskan ukuranya menjadi 4×6 meter, ada teras, ada kamar mandi komplit, atapnya pakai asbes, dan tanahnya diplester.

Dari dana iuran anggota Polres Klaten itu, Rabu kemarin (25/8) telah dibelikan 2 truk pasir, 40 semen, 3 buah kusen, 1000 batako, dan lainnya, Untuk persiapan membuat rumah, jajaran anggota pun  turun tangan kerja bakti bersama anggota Bhayangkari.

“Target sekitar tanggal 2 September 2016, diharapkan rumah ini sudah jadi kisaran 90 persen. Agenda ini juga dalam kerangka memperingati Hari Jadi Polwan ke 68 tanggal 1 September 2016, dan juga memperingati Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari tanggal 19 Oktober,” pungkas Faizal. (Arif Yuswandono /Bharindo /Tribratanewspoldajateng).

#71thRIkerjaNyata #PolriBagiNegeri #SaveNKRI

Kamis, 25 Agustus 2016

Kronologis Kejadian yg Sebenarnya Kasus Pelanggar Lalin yg Ditampar Petugas di Singkawang

PERNYATAAN LAPORAN TERTULIS DARI BRIGADIR YUSITASARI MENGENAI KRONOLOGI KEJADIAN:

_Assalamualaikum_ ndan...
Ijin menjelaskan kronologi dari awal kejadian pemukulan yg saya lakukan....
Saya tau saya salah namun sy ingin menjelaskan kronologi nya sebelum terjadinya pemukulan...

Pada tanggal 21 agustus 2016 sekira pukul 15.15 wib saya pam lalin di simpang 4 lampu merah Alianyang tepat nya di samping kantor walikota Singkawang...

Kemudian sy menemukan pelanggar lalin tidak menggunakan helm berhenti tepat di depan sy... sy tegur dia.. tapi dia tidak mengindahkan, kemudian si pelanggar itu sy suruh jalan alternatif krna tdk enak dilihat yg lain , sy arah kan si pelanggar ke kanan ( arah Mapolres Singkawang ) namun si pelanggar juga tidak mengindahkan...

Lalu sy kembali gatur, kemudian  setelah rombongan karnaval lewat sy kembali dtg ke pelanggar... ternyata helm si pelanggar ada di apit di kedua paha nya di depan jok pass d tengah2 sepeda motor nya...

Kemudian ketika sy tanya knapa helm nya ga dipake si pelanggr malah menggunakan kacamata.. lalu sy blg.. yg dipake helmnya bg.. bukan kacamata.. lalu dia blg "sy tidak mau " kemudian pass sy mau ambil helm nya dia menahan tangan sy... trs sy blg lagi pake dong helm nya.. trs sy ambil lg helm nya dg mksd untuk membantu menggunakan helm nya.. lalu tangan sy ditepis... kemudian melihat tingkah nya bgtu kunci motor si pelanggar sy ambil...

Kemudian setelah sy ambil kuncinya sy kembali gatur, lalu si pelanggar berusaha mengambil kunci motor yg sy tahan di saat sy sedang gatur , dan si pelanggar pun narik2 rompi sy dan menarik tangan sy dg mksd mengambil kunci itu...

Kemudian si pelanggar mungkin geram atau gimana sm sy dia mencoba mau mukul sy... Kemudian sy dorong motor nya ketepi...

Sy tanya sm si pelanggar knapa udh ditegur, kok malah berontak sm sy sampe memperlakukan sy yg ga baik sm sy... si pelanggar langsung bilang "saya ini buru2 mau pulang ke rmh, bapak sy sakit"

Lalu sy blg ke dia jgn gtu lah, kalo bapak mu sakit knapa mulut mu bau minuman keras sy blg... mungkin kehabisan alasan atau gmn si pelanggar langsung maki2 pake bahasa Tionghua... _congnyame cipai dll..._

Kemudian sy blg knapa km marah2 sm sy...
Lalu dia blg cepat lah kunci sy kembali kan...

Trs sy blg mana STNK motor mu...
Lalu dia coba rampas kunci nya... sy langsung blg biar sy sj yg buka nnti malah km bawa lari motor mu...
Kemudian dia ambil STNK dg no pol. KB 3119 P. STNK. An. Suhardi dan ternyata dia ga punya SIM..

Kemudian dia masih berontak2 ga terima lalu sy ditendang sm si pelanggar... kemudian pacar sy lihat ... lalu dilerai ... sy bingung knapa sy d tendang...

Kemudian datang salah seorang warga Tionghua menggunakan pakaian wrna biru yg tidak sy kenal langsung blg "ini knapa kok di keroyok" ...

Tidak ada yg mengeroyok dia ini dia cuma ga pake helm..

Namun setelah sy jelaskan berkali2 si pria tidak dikenal ini tetap ngotot bahwa kami melakukan pengeroyokan terhadap si pelanggar...

Kemudian ada 2 org polwan berhenti di lampu merah 2 org melakukan patroli, an. Bripda Nurul dan Bripda Riska...
Lalu sy suruh mereka berdua untuk meredam si pelanggar...

Si pelanggar masih marah2 dan malah mengatai polwan berdua itu dg kata2 "POLISI MACAM APA KAU, BRENGSEK, POLWAN TAIK"

Lalu sy langsung reflek secara tiba2 sy memukul dia beberapa kali ke arah pipi bagian kirinnya.

Lalu datang Brigadir Tigor dan Brigadir Dwi membawa si pelanggar ke belakang TKP.. kemudian kita bawa pelanggar ke mako dan tidak lama kemudian dtg anggota DPRD an. SUMBERANTO CITRA untuk menanyakan kejadian nya.. sy jelaskan kemudian di damai kan oleh beliau... dan mslh selesai... sy pun mencatat nama pelanggar tsb. An. Ahoi alamat nya di Jawai...

Dan krna merasa si Ahoi sudah minta maaf dan salaman sm sy pun suruh Ahoi pulang...

Brigadir Yusitasari, Anggota Satlantas Polres Singkawang - Kalbar

Rabu, 24 Agustus 2016

MENTAL PECUNDANG vs MENTAL PEMENANG

MENTAL PECUNDANG

YOGYAKARTA- (25/8/2016) Saya ingin mengomentari stts FB saudara Kamaruddin Simanjuntak, SH, Advokat Jakarta, yg diunggah pd 19 Agustus 2016 pk 07.39, dg judul *Polisi Republik Indonesia Swasta*. Dia menceritakan ttg seorang pria yg membantu mengatur lalulintas di wilayah Kebon Jeruk, Jakarta Barat, tepatnya di pertigaan ganda, mendekati jembatan menanjak fly over Kemanggisan,  di Jalan Arjuna Utara.

Sbg konsultan dan wartawan, sy mengapresiasi tulisan tsb. Namun nampak sekali bahwa sdr Kamaruddin Simanjuntak, SH tdk fair dan tdk obyektif dlm mengulas sosok pria pengatur lalu lintas tsb, qt sering menyebutnya "Pak Ogah". Tulisannya tendensius dan memojokkan institusi Polri.

Sbg pembanding, sy jg memiliki pengalaman pribadi ttg sosok Pak Ogah spt yg diceritakan sdr Kamaruddin Simanjuntak. Sy tinggal di kawasan Depok. Utk smp ke kantor di bilangan Tebet, seringkali sy melewati sepanjang Jalan Juanda, Margonda, Lenteng Agung, Pasar Minggu, Kalibata, Pancoran hgg Tebet. Di sepanjang jalan tsb ada bbrapa gang dan celah trotoar di tengah jalan utk putar arah yg dijaga satu dua Pak Ogah.

Keberadaan para Pak Ogah ini memang membantu, tp kadang mereka terasa curang dan arogan dg lebih mengutamakan pengendara yg belok ato putar arah dr pd pengendara yg ambil jalan lurus, dipastikan krn tips yg diterima.

Dr sekian banyak Pak Ogah yg ada di kawasan Jabodetabek, brp yg tulus sungguh2 membantu, dan brp yg krn motif ekonomi? Bahkan di bbrp tempat, kumpulan Pak Ogah ini diorganisir oleh para mafia ato preman setempat yg menguasai titik2 tertentu, dan pembagian kerjanya model sift.

Aparat kepolisian bukannya tdk tau soal keberadaan mereka. Dg alasan keterbatasan personil polantas dan faktor penghidupan, maka keberadaan para Pak Ogah tsb sengaja dibiarkan. Bahkan di bbrp tempat dibina dan dikontrol, mereka biasa disebut Bantuan Polisi (Banpol). Nanti kalau dihilangkan sama sekali komentar masyarakat akn negatif thd polri, "Orang cari uang kug dilarang", "Mematikan sumber penghidupan masyarakat", dsb. Serba salah.

Mana yg lebih banyak? Pak Ogah yg tulus membantu pengguna jalan, ato Pak Ogah yg memanfaatkan kesempatan dlm kemacetan, spt yg sering terjadi dlm proyek perbaikan jalan dan jembatan? Satu Pak Ogah baik menutup ratusan Pak Ogah nakal yg kadang menggunakan hasil pendapatannya utk miras dan lainnya.

Sementara, mana yg lebih banyak? Polisi yg nakal dan curang dibanding polisi baik dan jujur yg bekerja sungguh2 melayani masyarakat. Brp kali Anda mengalami dan menemui polisi yg bertindak nakal? Satu polisi jahat menutup ribuan polisi baik yg bekerja dan ttp terjaga di saat masyarakat terlelap.

Kemudian soal, polisi yg istrahat di warung ato berteduh di bawah pohon. Brp menit Anda melihat mereka beristirahat dan brp menit Anda melihat mereka berpanas2an bercampur asap knalpot, mengatur lalulintas, sementara Anda nyaman adem di mobil ber-AC ?

Lalu berkaitan dg polantas yg spt ngumpet utk menjebak pelanggar lalu lintas. Brp kali Anda melihat yg spt ini? Cara tsb mungkin salah, tp seandainya Anda tertib dg surat2 kendaraan lengkap, memakai jalan dg benar apakah Anda akan ditilang? Yg takut dan merasa terjebak adl mereka yg melanggar. Orang salah masih membela diri dg menanyakan surat tugas, papan razia, form biru dsb.

Sdr Kamaruddin Simanjuntak pasti sering melancong ke luar negeri. Lihat di Malaysia, Eropa dan Amerika. Di negara2 tsb bukan lagi polantas yg sembunyi, tp CCTV yg tersembunyi yg mengawasi pengguna jalan. Setiap pelanggan akn dikenakan denda yg ditambahkan pd saat membayar pajak, ato tagihan surat tilang dianter ke rumah. Apakah masyarakat Indonesia sdh siap?

Ttg polisi yg terkesan obral surat tilang dan suka jalan damai 86 di jalan. Terus terang saja, siapa yg memulai? Bukankah kebanyakan org Indonesia suka melanggar peraturan lalulintas? Lihat saja jalur busway yg penuh spd motor dan mobil pribadi. Masyarakat qt sgt rendah kesadaran berlalu lintas nya. Ketika mereka kena tilang, reaksi pertama adl "ngeyel" dan membeli diri. Jk sdh mentok mereka menolak sidang dan menawarkan damai di tempat. Mental Pecundang...😫

Sdr Kamaruddin Simanjuntak mengkritik habis institusi kepolisian, tp lupa bercermin pd profesi nya. Mungkin benar, banyak oknum polisi yg bs disuap dan memainkan pasal. Tp siapa yg memulai? Bukankah kebanyakan pengacara yg memulai lobi ke para penyidik utk meringankan hukuman kliennya, kalo perlu membebaskan sama sekali.

Bahkan ketika kasus sdh smp di meja persidangan, ketika polisi sdh tdk bs berbuat apa2, para advokat masih giat melobi jaksa dan hakim utk memenangkan kliennya. Jujur saja, apa motif sesungguhnya para advokat. Memang masih ada advokat yg jujur dan baik, tp berapa? Bandingkan dg advokat yg memiliki prinsip "Maju Tak Gentar Membela yang Bayar". Bukankah parameter kehebatan seorang advokat adl ketika ia memenangkan perkara? Makin sering menang, makin mahal tarifnya.

Dg memanfaatkan celah kelemahan hukum materiil, seorang advokat bs membebaskan seseorang, meski benar2 tlah melakukan tindak pidana. Ketika tdk ada saksi dan barang bukti yg mencukupi, maka bebaslah terdakwa dr ancaman penjara.

Kebanyakan pengacara yg merayu dan menyuap para penyidik, tp mereka yg kemudian menjelek2an institusi kepolisian. Manis di depan, menggunting di belakang. Bukankah ini yg disebut Mental Pecundang...

Menolak suap dianggap kaku dan tdk mau kompromi, menerima suap disebut rakus dan makan uang haram. Hadehhhhh...

Akhirnya, sy mengajak seluruh anak bangsa, apapun profesi nya, baik itu anggota polisi, advokat, masyarakat, PNS, mulailah perbaiki diri sendiri, koreksi diri sblm mencaci maki, berkomitmen lah pd profesi qt, jgn saling menyalahkan dan melemahkan, setiap qt punya kontribusi yg sama utk merusak ato memperbaiki bangsa ini.

Mari bergandengan tangan, bahu membahu utk Indonesia yg lebih baik. 71 th sudah atas nama bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta membaca teks proklamasi. Sdh saatnya Indonesia mjd bangsa yg besar, maju dan bermartabat. MERDEKAAA...

#71thRIkerjaNyata #SaveNKRI #PolriKerjaNyata

Salam Kemerdekaan (Arief Yuswandono /Bharindo News).