Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Pilpres 2019. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pilpres 2019. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Juli 2018

Men-JOKOWI-kan ANIES

Semua orang pasti tahu bahwa Prabowo Subianto adalah salah satu tokoh utama yang mengantarkan Ir. Joko Widodo menjadi Gubernur DKI Jakarta. Berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama yang waktu itu kader Gerindra, Jokowi berhasil mengkandaskan pasangan petahana Fauzi Bowo - Nachrowi Ramli pada Pilgub DKI 2012.

Semua orang pun tahu bahwa Prabowo Subianto dan penduduk ibukota kemudian "dikhianati" oleh Jokowi, karena lebih memilih maju sebagai Calon Presiden dari pada menyelesaikan 5 tahun masa tugasnya memimpin Jakarta. 2 tahun menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi tak kuasa menolak perintah Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarnoputri, untuk diusung sebagai Capres pada Pilpres 2014 melawan Prabowo Subianto, orang yang paling berjasa memenangkannya pada Pilkada ibukota.

Semua orang pun tahu bahwa Jokowi bukan calon terkuat yang dipersiapkan PDI-P dan Megawati untuk DKI Jakarta maupun Indonesia.

Semua orang tahu jika Jokowi yang bershio Kerbau 1961 (sama seperti shio Bung Karno 1901 dan SBY 1949), akhirnya menjadi Gubernur DKI Jakarta dan Presiden Republik Indonesia.

Sebagai kader PDI-P, Jokowi "dibajak" oleh kelompok lain dengan kekuatan besar di negeri ini. Itulah mengapa Megawati berkali-kali mengatakan bahwa Jokowi adalah "Petugas Partai (PDI-P)" yang menurut saya sebagai bentuk kegalauan dan kekuatiran.

Hari ini, sebulan menjelang pendaftaran Calon Presiden (4-10 Agustus 2018) untuk Pilpres 2019 kasus Jokowi sepertinya akan terulang kembali.

Adalah Anies Rasyid Baswedan, Gubernur DKI Jakarta yang diantarkan oleh Prabowo Subianto berpasangan dengan kader Gerindra, Sandiaga Salahuddin Uno, didorong-dorong untuk maju sebagai Calon Presiden.

Ada indikasi, "kekuatan besar" yang menjadikan Jokowi sebagai presiden, kali ini hendak menjadikan Anies sebagai presiden juga. Jika ini benar, maka terjadi Deja Vu, dimana terjadi pengulangan, orang yang diantarkan Prabowo sebagai Gubernur DKI Jakarta berhenti di tengah jalan untuk maju sebagai calon presiden. Men-JOKOWI-kan Anies.

Akan menjadi rekor hebat bagi Prabowo jika akhirnya dia harus selalu dikhianati dan melawan orang-orang yang dididiknya. Apalagi jika kemudian Prabowo kalah dari Anies pada Pilpres 2019, it's amazing !

Prabowo yang bershio Kelinci 1951 memang memiliki catatan selalu "dikhianati" orang-orang terdekatnya. Ini seperti menurun dari ayah dan kakeknya. Kakek Prabowo, RM. Margono Djojohadikusumo, juga dikhianati oleh Bung Karno di akhir masa hidupnya. Padahal Margono adalah salah satu tokoh pendiri bangsa, anggota BPUPKI dan pendiri bank pemerintah, BNI.

Ayah Prabowo, Soemitro Djojohadikusumo juga tokoh yang dikhianati oleh Bung Karno dan dicap sebagai pendukung pemberontak, hingga keluarganya terlunta-lunta hidup di pelarian, mulai dari Singapura, Thailand, China, Amerika dan Inggris. Itulah mengapa Soemitro memiliki nama-nama samaran seperti Abu Bakar, dan Suu Ming Doo, nama Tionghoa.

Sejak masih aktif sebagai prajurit TNI AD, Prabowo sudah terbiasa "dikhianati" koleganya. Pada tragedi Trisakti dan penculikan aktifis 1998 Prabowo dikorbankan oleh atasannya, hingga berhenti di tengah jalan. Pada dunia politik, Prabowo juga dikhianati oleh beberapa tokoh Partai Golkar pada saat konvensi capres 2004.

Setelah pilpres 2009, Prabowo yang cawapres kembali dikhianati oleh PDI-P dan Megawati, yang mengingkari perjanjian Batu Tulis, dimana Prabowo akan bergantian sebagai Capres pada Pilpres 2014.

Prabowo juga punya catatan dikhianati oleh anak-anak didiknya. Selain ditikung oleh Jokowi pada Pilpres 2014, Prabowo juga dikhianati oleh kepala daerah yang diusungnya, seperti Ahok dan Ridwan Kamil.

Prabowo juga dikhianati oleh para pendukungnya di Pilpres 2014 seperti Prof. Mahfud MD, Ali Mochtar Ngabalin, Romahurmuziy, TGB Zainul Majdi yang lebih memilih merapat ke kubu Jokowi.

Kekuatan besar tersebut memanfaatkan kelompok oportunis yang secara genit mendorong-dorong Anies untuk maju sebagai calon presiden. Bahkan telah secara terang-terangan mendeklarasikan Anies for Presiden.

Kelompok-kelompok lain juga memecah kesolidan pendukung Prabowo dengan mendeklarasikan mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn.) Gatot Nurmantyo dan Gubernur NTB, TGB Zainul Majdi sebagai capres.

Sebulan ini adalah waktu kritis bagi Prabowo Subianto untuk menentukan sikap dan melakukan konsolidasi serta lobi jika ingin menyelamatkan Indonesia dengan menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Menarik bagi Anies Baswedan, apakah dia akan tetap komitmen menjaga etika politik dengan menuntaskan tugasnya di ibukota, atau juga tergoda untuk maju sebagai capres mengikuti jejak Jokowi.

Mari kita tunggu di Agustus 2018 ini !!!

Salam Indonesia Raya !

Jakarta, 9 Juli 2018
Arief Luqman El Hakiem
Pegiat Media dan Pemerhati Kebijakan Publik

Jumat, 29 Juni 2018

TEKNOLOGI SEDOT SUARA (Cuitan Akbar Faizal, Politisi Partai Nasdem)

JAKARTA - Politikus Nasional Demokrat Akbar Faizal membuat surat yang ditujukan ke Deputi Kantor Staf Kepresidenan Yanuar Nugroho. Nyatanya, isi surat yang mengkritik Kepala Staf Kepresidenan Luhut Binsar Pandjaitan tersebut bocor ke publik. Alhasil, isi surat yang bernada menyerang iu menjadi perbincangan ramai di media social.

Surat tersebut sebenarnya berisi sindiran tentang rencana pengangkatan beberapa alumni Universitas Harvard untuk menjadi staf Luhut Panjaitan. Akbar mengakui surat itu dibuatnya. Pun dengan Luhut sudah meresponnya.

“Waktu saya ceramah di Harvard Bisnis School itu ada anak-anak Indonesia yang sekolah di sana itu melamar masuk ke mari. Salah? Enggak ada yang saya agungkan kok. Jadi bagusnya lihat konteks dulu. Jangan buru-buru ngomel gitu,” ujar Luhut.

Berikut isi lengkap surat anggota Komisi III DPR tersebut yang beredar di Twitter itu:

Yth. Pak Yanuar Nugroho, sy Akbar Faizal alumni IKIP Ujung Pandang jurusan Sastra (S1) dan Komunikasi Politik (S2) UI. Sekarang anggota DPR RI. Sy ucapkan selamat atas jabatan mentereng sbg deputinya Jenderal Luhut.

Pak Luhut dulu bagian dari tim kampanye Jokowi-JK dan jg Tim Transisi. Ada beberapa peran Pak Luhut yang cukup layak utk dicatat dalam pemenangan Jokowi meski menurutku tdk sebesar peran Megawati yg memerintahkan PDIP hingga ke akar rumput untuk memenangkan Jokowi.

Sesungguhnya Jokowi tak akan jadi Presiden jika PDIP atawa Mega td​k merekomendasikan Jokowi. Hal yang sama juga terjadi pada Surya Paloh, Muhaimin Iskandar, Wiranto dan belakangan Sutiyoso. Selanjutnya bergabung berbagai relawan seperti Projo, Bara JP, Seknas, dll.

Tak boleh dilupakan sayap2 partai pengusung seperti PIR dari Nasdem dalam komando Martin Manurung dan Relawan Cik Ditiro dalam komando kawan2 PDIP.

Pasukan PKB terutama Marwan Jafar berjibaku dengan kami di Timkamnas dalam komando Cahyo Kumolo dan Andi Wijayanto berkeliling Indonesia meneriakkan “Pilih Jokowi karena bla…bla…bla…” Tak ada anak Harvard di tim pemenangan kami. Yg agak jauh kuliahnya itu paling Eva K. Sundari yang pernah sekolah di Inggris entah di mana.

Saya tak terlalu paham pula apakah di Inggris sana dia menemukan suaminya yang orang Timor Leste dan membuatnya dimaki setiap hari oleh tim Prabowo sebagai Katholik sejati atau pengkhianat bangsa dst.
Rieke Pitaloka setahu saya kuliah di UI namun berkeliling dari kampung ke kampung sepanjang Jawa untuk meyakinkan ibu2 untuk memilih Jokowi dan berakibat dia disumpahi sebagai keturunan PKI di semua medsos.

Ada pula yg bernama Teten Masduki yg setahu saya hanya alumni IKIP Bandung namun fokus ke Jawa Barat dan meyakinkan semua seniman2 bermartabat utk mendukung Jokowi seperti Slank atau Iwan fals atau Bimbo.

Jika Anda tahu tentang “Konser 2 Jari” yang menjadi pamungkas kampanye dan membalikkan persepsi publik tentang besarnya dukungan massa terhadap Jokowi dan Prabowo di masa2 krusial saat itu, itu adalah kerjaan Teten.

Pak Luhut sendiri setahu saya (dan sesungguhnya sy sangat tahu masalahnya) banyak menghabiskan waktu di kantor pemenangan yang dibentuknya di Bravo 5 Menteng dan berdiskusi or menelepon banyak orang yg saya dengar sebagai “orang LBP” entah di mana saja.

Beberapa kali saya rapat dengan tim mereka di mana hadir para pensiunan Jendral yang –mohon maaf– masih merasa sebagai komandan pasukan dengan berbagai kewenangan.

Juga proposal beliau tentang sistem IT beliau yang cukup memarkir mobil di depan KPU dan seluruh data2 bisa tersedot. Kami di Jl. Subang 3A –itu markas utama pemenangan Jokowi Mas– terkagum2 membayangkan kehebatan teknologi Pak LBP sekaligus mengernyitkan dahi tentang proses kerja penyedotan data tadi. Sy yg pernah menjadi wartawan senyum-senyum saja sebab sedikit paham soal IT.

Senyumanku semakin melebar saat membaca jumlah dan yg dibutuhkan utk pengadaan teknologi sedot-menyedot tadi. Dalam hal massa, tercatat 2 kali LBP mengumpulkan masy Batak di Medan dan Jkt utk mendukung Jokowi-JK.

Mas Yanuar, sy merasa perlu menulis spt ini sebab saya merasa kantor Anda terlalu jauh mendeskripsikan diri akan tugas dan kualifikasi staf sebuah kantor Kastaf Presiden.

Sebenarnya sy tak perlu terlalu menanggapi soal Harvard ini. Sy jg pernah ke sana tp sbg turis. Otak saya memang tak akan mampu kuliah di sana. Lha wong sy org desa.
Bahasa Bugis sy juga jauh lbh lancar dari Bahasa Inggris saya. Namun soal Harvard ini mmebuat saya merasa “koq kalian menghina bangsamu sendiri?

Merendahkan kualitas pendidikan bangsamu yg kabarnya akan kau katrol kualitasny dgn cara memasukkan orang Harvard atau entah dari mana lagi di luar negeri sana?

Mengapa kalian semakin jauh dari ‘kesepakatan awal kita di tim dulu utk menghormati bangsamu sendiri?

Mengapa kalian makin kurang ajar saja? Saya sebenarnya pernah ingin mempersoalkan lembaga bernama Kastaf ini sebab sejujurnya “tak ada” dlm perencanaan kami di Tim Transisi dulu.

Sekadar menginfokan ke Anda Mas bhw Tim Transisi itu dibentuk Pak Jokowi untuk merancang pemerintahan yg akan dipimpinnya. Tapi saya sungguh tak nyaman mempersoalkan itu sebab akan dituding macam2. Mis, akh… krn AF kecewa tdk jadi mentri dll.

Dan msh byk lagi sebenarnya yg ingin sy pertanyakan. Termasuk surat presiden ke DPR ttg Budi Gunawan yg disusul kontroversi2 lainnya. Ke mana para pemikir Tata Negara di sekitar Pak Jkw skrg? Yg kudengar selanjutnya malah pengangkatan Refly Harun sbg Komisaris Utama Jasa Marga.

Mungkin Bu Rini anggap Refly sangat paham soal Tol karena setiap hari melalui macet persoalan yg pak jkw katakan dulu akan lbh mudah menyelesaikannya sbg presiden ketimbang sbg Gub DKI– dr rumahnya di Buaran sana. Mas Yanuar, sbg anggota DPR pendukung pemerintah dan insyaallah punya peran (meski sgt kecil) terhadap kemenangan Jkw -JK,… saya ingin kalian di istana fokus pada tugas yg lebih membumi.

Mis, jangan biarkan kami di DPR dihajar bagai sansak oleh orang2 Prabowo dalam kasus kebaikan tunjangan mobil pejabat, misalnya, hanya karena kalian tak mampu berkomunikasi dgn kami di DPR (atawa parpol pendukung. Ini jg satu soal sendiri karena terbaca dgn kuat kalau kalian ring 1 preaiden kini sukses melakukan Deparpolisasi) dan atau gagal meyakinkan publik akan seluruh keputusan2 presiden/pemerintah. Soal sesepele ini tak perlu kualitas Harvard.

Sy merasa mengenal bbrp org di istana negara tempat Anda berkantor sekarang. Entah apa mrk (masih) mengenal sy sekarang. Tp sy nggak memikirkannya. Sy hanya minta kalian di sana berhenti melakukan hal yg tak perlu spt deklarasi soal Harvard yg akan masuk Istana
Sekali lagi, sy sebenarnya tak perlu menulis panjang lebar seperti ini hanya utk menanggapi soal Harvard ini.

Tapi saya hrs lakukan sebab menurutku kalian makin jauh dari seluruh rencana awal kita. Dan sayangnya, seluruh rencana awal itu saya pahami dan terlibat di dalamnya.

Saya sekuat mungkin berusaha menghindari kalimat2 keras utk memahami apa yg kalian lakukan di sana.

Tapi sepak terjang kantor Mas Yanuar bernama Kastaf Kepresidenan itu makin jauh. Terakhir, saya sarankan agar menahan diri dalam memberikan masukan ke presiden.

Jangan racuni pikiran presiden yg polos dgn permainan yg dulu kami hindarkan beliau lakukan meski kadang gregetan lihat langkah2 tim Prahara Terkhusus dengan Pak JK, saya minta kalian berikan rasa hormat.

Tgl 9 Juli lalu, 63% penduduk Indonesia memilih Jokowi – JK dan bukan Jendral Luhut Binsar Pandjaitan apalagi Anda2 yg bergabung belakangan.

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID