Cari Blog Ini

Senin, 16 Januari 2017

LEBIH DEKAT DENGAN MASPOLIN



A. Sekilas MASPOLIN
MASPOLIN singkatan dari Masyarakat Polisi Indonesia atau _Indonesian Police Community_ (IPC) adalah komunitas masyarakat yang berdiri sebagai bentuk kepedulian dan keprihatinan atas kondisi institusi polri yang rendah kinerjanya dan rendah index _public trust_ nya.
Masyarakat Polisi Indonesia (MASPOLIN) secara sempit berarti kumpulan masyarakat yang peduli dan berkontribusi secara aktif pada kinerja dan profesionalisme polri. Tujuan akhirnya adalah institusi polri yang kuat dan bermartabat.

Masyarakat Polisi Indonesia (MASPOLIN) secara luas berarti masyarakat yang bersifat polisi, dimana kesadaran hukum dan semangat saling menjaga keamanan serta ketertiban telah tumbuh dalam setiap diri anggota masyarakat. Sehingga jiwa polisi ada dalam setiap orang. Jiwa melindungi dan mengayomi, jiwa menjaga dan memelihara.
Para perintis memiliki semangat dan pandangan yang sama, bahwa polri adalah institusi negara yang wajib dijaga kehormatan dan kewibawaannya. Dikuatkan dari dalam dengan peningkatan kinerja dan perbaikan pelayanan, menjadi institusi yang profesional dan modern. Dijaga dari luar dengan membangun citra yang positif dan meng-conter opini negatif yang sengaja disebarkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Pegiat MASPOLIN berasal dari masyarakat sipil dan anggota polisi aktif. Pengrusakan dan pelemahan institusi polri tidak hanya dilakukan orang luar saja, tetapi setiap oknum anggota yang menyimpang dan tidak amanah adalah perucak citra polri. Sehingga kepedulian harus dimulai dari dalam tubuh institusi polri itu sendiri.
B. Pegiat MASPOLIN

MASPOLIN diinisiasi oleh beberapa orang yang memiliki visi dan misi sama, dari berbagai kalangan dan profesi, lintas kota bahkan pulau, disatukan oleh semangat mewujudkan institusi polri yang kuat dan bermartabat dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Adalah *S Stanley Sumampouw,* seorang pengusaha, tinggal di Jakarta. Dengan segudang pengalaman memimpin banyak perusahaan dan interaksi puluhan tahun dengan polri secara institusi maupun personal. Dari beliaulah ide dan gagasan pembentukan MASPOLIN pertama kali muncul.
Gagasan tersebut makin matang dan solid setelah didiskusikan dengan beberapa aktifis yang peduli dengan institusi polri, termasuk yang diajak _sharing_ adalah anggota aktif kepolisian. Para perintis awal tersebut antara lain ;
1. Imam Nurcahyo, wartawan dan mitra polri Bojonegoro. Jurnalis kawakan dengan segudang pengalaman, membidani lahirnya ratusan situs berita dan informasi skala lokal maupun nasional. Tokoh yang terlibat lahirnya aplikasi CAS _(Crime Alarm System)_ Polres Bojonegoro dan  Sistem _e-Police_ di Polres Bojonegoro.2. Tatiana Razainni, aktifis dan relawan _Anti Scammer_ dari Bandung. Wanita tangguh yang bersama rekan2 komunitasnya berhasil menenggelamkan para penipu di medsos, dan menyelamatkan ratusan korban penipuan.
3. Mustain, jurnalis kawakan dengan pengalaman puluhan tahun, ramah dan rendah hati dari Jawa Timur. Dengan semangat tinggi mengelola media cetak maupun elektronik dan mengurus beberapa Grup Facebook mitra polri, dengan giat utama conter opini dan publikasi giat humanis polri.
4. Dien Albanna, penulis muda seputar polri dan dinamikanya, tinggal di Jember. Dengan gaya khas, dan bahasa yang lugas, beberapa buku polri berhasil dia terbitkan.
5. Ninuk Sri Lestari, biasa dipanggil Tarie, wanita hebat asal Probolinggo. Jurnalis Mitra  Humas Polri yang multitalenta, juga sebagai penyidik dan  pengawas dan ketenagakerjaan.
6. Rusdiyanto, dikenal sebagai Anto Badai saat ini bekerja di Riau Televisi Group Jawapos Tv sebagai Reporter Daerah Kabupaten Kampar.
7. Arief Luqman El Hakiem (Yuswandono), masyarakat sipil, tinggal di Jogjakarta. Aktif sebagai pegiat pendidikan, penulis dan wartawan Tabloid Bhayangkara Indonesia.
8. Ferdinand Mokodompit, jurnalis berpengalaman pada media polri, dan profesional pendidikan, tinggal di Manado, juga sebagai peneliti hydrologi, dan salah satu pimpinan di yayasan perguruan tinggi Kotamobagu
9. Beberapa anggota aktif polri ; seperti *Kombes Dwi Setiyadi*, perwira polisi yang pertama kali perang _cyber_ di medsos, seorang perwira potensial yang humanis dan penuh inspirasi. *Kompol Bayu Suseno*, perwira muda, cerdas dan energik, kandidat doktor di PTIK. *AKBP Edy Sumardi Priadinata*, Kapolres Kampar, pemimpin yang bersemangat dan tidak kenal lelah. *AKBP Wahyu Sri Bintoro*, Kapolres Bojonegoro, pemimpin yang kreatif dan selalu jadi pelopor, salah satunya sbg inovator aplikasi CAS (Crime Alarm System) Polres Bojonegoro . *AKBP Narto*, Kabid Humas Polda Sultra yang ramah dan humoris. *AKBP Takdir Mattanete*, Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak yang gesit dan kreatif. *AKBP Fadly Samad*, Kapolres Tuban yang berhasil mendekatkan polisi ke masyarakat dengan aplikasi SIBI nya. *AKBP I Made Agus Prasatya, Kapolres Trenggalek, dengan program PHC (Police Humanity Care) berhasil mengubah wajah polisi menjadi lebih humanis. *Kompol Sinungwati Sh*, polwan Polda DIY yang energik, kreatif dan inspiratif. *AKBP Yossy Runtukahu,* Wadir Ditnarkoba Polda Sumut, polisi cerdas dan ramah yang sangat peduli pada masyarakat.
10. Beberapa tokoh pengusaha dan Keluarga Besar Putra Putri (KBPP) Polri, seperti Bang *Andre Kilimandjaro Lantang*, Ibu *Arinta P. Lenggono* sebagai penasihat yang banyak mensupport MASPOLIN.
C. Dasar dan Landasan MASPOLIN
MASPOLIN berdasarkan Pancasila dan berlandaskan UUD 1945
D. Visi dan Misi MASPOLIN
Visi MASPOLIN adalah terwujudnya institusi polri yang kuat dan bermartabat dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Misi MASPOLIN adalah menjadi bagian penting komunitas masyarakat yang berkontribusi dalam peningkatan kinerja dan perbaikan pelayanan polri. Berperan aktif membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kehormatan dan kewibawaan institusi negara khususnya kepolisian.
E. Tujuan dan manfaat MASPOLIN
MASPOLIN bertujuan ; 1) Menjadi wadah silaturahmi dan komunikasi masyarakat yang peduli dan cinta polri, 2) Melakukan conter opini terhadap berita negatif terkait institusi polri, 3) Membangun citra polri yang positif dengan pemberitaan giat polri dan profil polisi yang humanis, 3) Memberikan masukan dan saran kepada institusi polri untuk meningkatkan kinerja dan perbaikan pelayanan, 4) Menginisiasi giat _off air_ untuk membangun hubungan yang harmonis antara polri dan masyarakat.
F. Anggota MASPOLINKeanggotaan MASPOLIN bersifat terbuka, bagi masyarakat luas, segala kalangan dan profesi. Juga bagi anggota aktif polri.
Sifat keanggotaan aktif dan pasif. Setiap orang yang peduli dan berkontribusi pada perbaikan institusi polri adalah anggota MASPOLIN.
G. Program dan Giat MASPOLINProgram kegiatan MASPOLIN ; 1) Melakukan conter opini terhadap berita negatif polri di media online, 2) Menyebarkan berita giat polri yabg positif dan humanis, 3) Mengadakan diskusi online dan offline seputar polri dan dinamikanya, 4) Mengadakan kegiatan2 off air yang berdampak pada perbaikan citra polri, 5) Melakukan koordinasi dan komunikasi intensif dengan institusi polri.
H. Media MASPOLIN
Saat ini media yang dikelola MASPOLIN adalah Grup WhatsApp FD MASPOLIN, Grup FB Forum Diskusi MASPOLIN, dan website maspolin.com
Salam PROMOTER
Arief Luqman El Hakiem (Redaktur Pelaksana maspolin.com)

Hanya Tuhan Yang Bisa Menggagalkan Tito Karnavian


JAKARTA - (16 Juni 2016) Presiden Jokowi sudah mengajukan calon tunggal Kapolri, yaitu Komjen. Drs. HM. Tito Karnavian, MA, Ph.D yang saat ini menjabat sebagai Kepala BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Teroris). Melihat gelar yang melekat pada namanya saja akan bisa membuat jajaran komisi III DPR RI lumer.

Tito adalah "keajaiban" di tubuh Polri. Dia penyandang bintang tiga termuda, juga termasuk jenderal cerdas dengan riwayat pendidikan sangat mentereng. Gelar doktoralnya tidak main-main, dia lulus Ph.D in Strategic Studies with interest on Terrorism and Islamist Radicalization at S. Rajaratnam School of International Studies , Nanyang Technological University, Singapore dg predikat magna cum laude th 2013.


Dia lulusan terbaik Akpol peraih Adhi Makayasa 1987, lulusan terbaik PTIK 1996, peraih Bintang Seroja sebagai lulusan terbaik Lemhanas 2011. Ketika lulus SMA di Palembang 1983 Tito sebenarnya di terima di Kedokteran Univ. Sriwijaya, Hub. Internasional UGM, juga STAN.


Soal prestasi jangan tanya, Tito pernah memimpin Tim Kobra yang berhasil menangkap Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto dalam kasus pembunuhan Hakim Syarifuddin th 2001. Dalam dunia terorisme Tito bintangnya. Dia berhasil mengungkap kasus Bom Bali II, penggerebegan Dr. Azhari di Malang, penangkapan Noordin M Top, dan menumpas pelaku teror Bom Sarinah pada saat menjabat Kapolda Metro Jaya.


Pendidikan kepolisian dan kursus ketrampilan yang diikuti Tito tidak muat kalau ditulis disini. Penugasan dan keterlibatan dalam kegiatan kepolisian di luar negeri bisa satu halaman tersendiri. Tahun 2002, 2003, 2004, 2005, 2006, 2007 dan 2011 Tito selalu mendapat kesempatan tugas untuk Haji dan Umroh.


Dan yang luar biasa, Tito adalah perwira polisi yg produktif menulis buku. Karya Tito diantaranya adl ; Indonesian Top Secret: Membongkar Konflik Poso, Gramedia , Jakarta, 2008.Regional Fraternity: Collaboration between Violent Groups in Indonesia and the Philippines, Bab dalam buku "Terrorism in South and Southeast Asia in the Coming Decade ", ISEAS, Singapura, 2009. Bhayangkara di Bumi Cenderawasih , ISPI Strategic Series, Jakarta, 2013. Explaining Islamist Insurgencies, Imperial College, London, 2014.


Jika semua lancar, Tito akan menjadi Kapolri termuda yang melompati 5 angkatan di atasnya. Sebagai tambahan, jenderal Badrodin Haiti adalah angkatan 1983 sementara Tito lulusan 1987. Tito juga berpeluang menjadi Kapolri terlama mengingat usianya yang masih 51 tahun.


Perlu digarisbawahi, Tito Karnavian termasuk polisi bersih yg tdk punya catatan buruk selama ini. ( namanya pernah disebut dlm kasus rekaman Freeport skandal "Papa Minta Saham").


Dengan rekam jejak yang begitu mentereng, siapa yang bisa menghentikan langkah Tito untuk memegang tongkat komando di tubuh pengemban Tri Brata?


Jawabnya, hanya Tuhan yang bisa menggagalkan Tito untuk menjadi Kapolri...


Salam Tribrata
Arief Luqman El Hakiem

Terima Kasih Jenderal Tito Karnavian


JAKARTA- (11/12/2016) Beberapa bulan terakhir ini institusi Polri menjadi sorotan dan dijadikan bulan-bulanan _bully_ baik di dunia maya maupun dunia nyata. Jenderal Polisi HM. Tito Karnavian, MA, Ph.D sebagai Kapolri adalah pihak yang selalu tertuduh dan dijadikan kambing hitam dalam setiap persoalan yang menimpa negeri ini.
Semua kesalahan dan sebab kekacauan selalu diarahkan kepada Kapolri, tanpa melihat situasi dan keadaan yang sesungguhnya. Publik benar-benar tertutup logika dan nalar sehatnya. Pihak pembenci sudah ter_setting_ pikirannya, bahwa pihak yang tidak menuruti keinginannya adalah musuh wajib diserang, termasuk institusi Polri.
Ibarat permainan sepak bola, saat ini memang bola ada di tangan Polri. Apapun yang dilakukan Kapolri, apakah mengoper, menggiring atau _shooting_ langsung selalu membawa resiko dan konsekuensi, sementara penonton terus berteriak dan bersorak tidak karuan. Sekali-sekali mungkin para komentator dan provokator berdiri pada posisi pengambil keputusan buar tahu rasanya bekerja dalam tekanan.
Terlepas dari itu semua, institusi Polri dibawah komando Jenderal Tito terbukti mampu bangsa ini keluar dari kemelut dan ancaman perpecahan. Beliau memperlihatkan dirinya layak dan pantas menjadi pemimpin, meski sebelumnya banyak pihak yang mencibir, nyinyir dan meragukan pengalamannya.
Sukses dan damainya Aksi Bela Islam (ABI) jilid 1-3 adalah bukti empirik kesigapan dan kelincahan Jenderal Tito melakukan lobi dan pendekatan kepada setiap elemen bangsa yang terlibat. Disaat tokoh-tokoh nasional mengambil posisi saling berhadap-hadapan dan saling melempar umpan permusuhan, Jenderal Tito justru mengambil langkah berani dengan mengajak dialog ormas FPI (Front Pembela Islam) dan GNPF MUI (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia) untuk mencari titik temu dan kompromi.
Khusyuk dan khidmatnya Aksi Gelar Sajadah pada ABI 3 yang memecahkan rekor sebagai gelaran Sholat Jumat terbesar dan terbanyak sepanjang sejarah, adalah atas peran penting Jenderal Tito yang berani dan lemah lembut. Kita bisa bayangkan seandainya masing-masing pihak ngotot dan berkeras dengan keputusannya, mau jadi apa bangsa ini.
Jenderal Tito dengan segala pengalaman dan kecerdasannya berhasil mengajak semua elemen yang tergabung GNPF MUI untuk menjadikan Acara Aksi 212 benar-benar Super Damai dan Super Khusyuk, bersih dari provokator, kelompok makar dan kepentingan politik praktis yang selama ini justru merusak perjuangan Umat Islam.
Diamankannya beberapa aktifis yang diduga makar pada dini hari Jumat, (2/12) justru untuk memastikan bahwa Aksi Gelar Sajadah 212 benar-benar murni doa dan ibadah, tidak terkotori oleh kepentingan kelompok yang tidak jelas agendanya. Silakan kelompok yang memiliki agenda lain menyelenggarakan aksi sendiri tapi jangan rusak niat dan keiklasan Umat Islam dalam beribadah, begitu kira-kira pertimbangan Polri.
Terakhir adalah keberhasilan institusi polri, dalan hal Densus (Detasemen Khusus) 88 menggerebek gudang bom di daerah Bintara, Bekasi, Jawa Barat. Apresiasi juga patut disematkan kepada Kapolri beserta jajarannya yang dengan sigap berhasil mengungkap rencana jahat sekelompok teroris untuk mengacaukan ibu kota dan negeri ini.
Jika rencana jahat teroris ini tidak digagalkan tentu akan menimbulkan konflik dan kekacauan yang lebih besar. Umat Islam akan kembali tercoreng dan tersudutkan dengan ulah pemeluknya yang jelas-jelas menyimpang.
Umat Islam semestinya berterimakasih kepada Jenderal Tito Karnavian yang berhasil membersihkan Islam dari benalu dan perusak ajaran yang agung dan damai ini. Tuduhan pengalihan isu dan cari panggung adalah komentar bodoh dan tidak bertanggung jawab.
Jika rencana jahat teroris ini dibiarkan hingga berhasil membuat ledakan, barulah publik sadar, dan kembali berkomentar “dimana intelejen polri, masa ada rencana seperti itu sampai tidak diketahui?”.
Memang tidak mudah menjadi polisi, selalu dituduh dan disangka buruk. Namun dibawah kepemimpinan Jenderal Tito Karnavian, institusi Polri berhasil membuktikan diri menjelma menjadi lembaga yang tegas, selalu siaga namun tetap ramah dan humanis. Terimakasih Jenderal Tito…!
Salam Promoter 
(Arief Luqman el Hakiem)

THE SPIRIT OF MASPOLIN

Sejak resmi lahir 22 September 2016, MASPOLIN (Masyarakat Polisi Indonesia) terus berkembang tak terbendung. Sebagai komunitas media online yang bermitra dengan Institusi Polri, Maspolin tergolong aktif dan agresif.
Berawal dari satu Grup Facebook “Maspolin” dan satu Grup WhatsApp “Forum Diskusi Maspolin”, kini MASPOLIN sudah memiliki lebih dari 20 (dua puluh) Grup Facebook dan portal berita dalam bentuk domain. Juga memiliki 10 (sepuluh) Grup WhatsApp termasuk di dalamnya Grup WhatsApp Kelas Jurnalis, dimana pegiat Maspolin belajar dan berdiskusi seputar dunia jurnalistik.
Jajaran Perwira dan anggota aktif korps Bhayangkara juga concern dan selalu monitor perkembangan Maspolin. Polres Kampar di Riau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur tidak ketinggalan dari Mabes Polri ada Karo Penmas, Brigjen Pol. Rikwanto yang selalu membimbing dan memberi pencerahan pada pegiat Maspolin.
Sekali lagi, Maspolin adalah sebuah keajaiban. Tidak ada uang beredar, tidak ada gaji dan upah, tidak ada konflik dan intrik, bahkan semua program dan kegiatan dikordinasikan melalui rapat-rapat di media online. Ada grup WhatsApp khusus Dewan Redaksi Maspolin untuk mengatur dan mengelola Media Maspolin Grup.
Saya menyebut, pegiat Maspolin adalah pejuang dan relawan. Mereka semua bergerak karena sebuah semangat (spirit). Spirit itu adalah cinta dan kepercayaan, harapan akan sebuah tatanan kehidupan masyarakat yang santun, beradab, teratur dan rasional. Itulah The Spirit Of Maspolin.
Pegiat Maspolin bukanlah pengangguran dan pengemis yang meminta belas kasihan kepada petinggi polri untuk sekedar hidup atau beli pulsa. Pegiat Maspolin memiliki pekerjaan, usaha dan penghidupan masing-masing. Bang Stanley Sumampouw sebagai sesepuh dan penggagas Maspolin adalah pengusaha besar di ibukota, dengan pengalaman dan ratusan bisnis yang dikelola. 

Imam Nurcahyo, sebagai wakil pemimpin redaksi adalah jurnalis hebat yang mengelola media besar BBC (beritabojonegoro.com). Saya sendiri aktif sebagai konsultan manajemen dan mengelola Tabloid Bhayangkara Indonesia. Mustain dari Lamongan adalah wartawan senior yang mengelola suaraindonesianews dan memorandum. Bunda Tatiana Razaini adalah aktifis perempuan dari Bandung yang produktif.
Ferdinand Mokodompit dari Manado adalah praktisi pendidikan, Anto Badai bekerja sebagai kepala pada Riau TV milik Jawapos Grup. Tarie dari Probolinggo adalah aktifis dan praktisi ketenagakerjaan. Fals dari Trenggalek adalah wartawan Kompas Grup. Rimbawan Sugianto adalah Lawyer hebat di Bekasi. 
Jurnalis muda Maspolin seperti Zamroni, Vera, Linda, Tyan, dan lainnya memiliki kegiatan produktif disamping masih aktif kuliah.
Para pegiat Maspolin adalah orang-orang terhormat yang berkomitmen mendedikasikan dirinya untuk kebaikan institusi polri. Saya merasa beruntung dan bahagia menjadi bagian dari komunitas masyarakat yang tercerahkan dan penuh semangat. Saya bangga menjadi pegiat Maspolin. WE ARE MASPOLIN…
Arief Luqman El Hakiem (Redaktur Pelaksana Maspolin).

THE MIRACLE OF MASPOLIN


Menurut saya MASPOLIN adalah sebuah keajaiban dari kemustahilan. Kependekan dari Masyarakat Polisi Indonesia atau Indonesian Police Community yang disingkat IPC, Maspolin lahir dari sebuah gagasan sederhana, menghimpun masyarakat yang cinta dan menjaga institusi polri yang selama ini aktif di media sosial.
Adalah Stanley Sumampouw, seorang pengusaha sukses berdarah Manado namun lebih separuh hidupnya dihabiskan di Ibukota, yang pertama kali menghubungi via telpon dan meyakinkan saya untuk ikut bersama-sama mendirikan Maspolin. Awalnya bernama Masyarakat dan Polisi Indonesia, kemudian saya usulkan satu nama dan akronim yang lebih greget, yaitu Masyarakat Polisi Indonesia tanpa kata dan, disingkat Maspolin.
Secara bahasa, masyarakat dan polisi yang dipisah dengan kata dan, berarti dua kata benda yang sejajar, namun jika ditulis sebagai frasa tanpa kata dan, berarti satu kata benda yang diberi kata sifat. Masyarakat sebagai kata benda utama, dan polisi sebagai kata sifat. Masyarakat Polisi artinya masyarakat yang bersifat polisi. Polisi sebagai kata sifat. Masyarakat berarti kumpulan orang tinggal dalam bersama, polisi artinya tertib, beradab, rasional dan santun.
Masyarakat Polisi berarti kumpulan manusia yang hidup bersama di suatu tempat dalam keteraturan, ketertiban dan kesantunan. Dalam tradisi besar umat manusia, kita temukan istilah kota (polis, civic, madina) dalam konotasi positif:   keberadaban   (civility),   kemuliaan   (nobility)&,   dan keteraturan (order). Penjaga kehidupan kota itu sendiri bernama “polisi” (police), yang masih satu rumpun dengan kata “poli” (polite), yang berarti tertib sosial- santun berkeadaban.
Menjadi warga kota berarti menjadi manusia beradab. “Menjadi manusia beradab,” ujar   Fernand   Braudel,   “berarti   memuliakan   tingkah   laku,   menjadi   lebih tertib-taat   hukum   (civil) dan   ramah   (sociable). “Max   Weber mendefinisikan   kota   sebagai   “suatu   tempat   yang   direncanakan   bagi   kelompok berbudaya dan rasional.”
Misi MASPOLIN sesuai singkatannya, Masyarakat Polisi Indonesia adalah mewujudkan masyarakat yang beradab, tertib dan mulia. Ini akan terwujud jika polisi sebagai institusi kuat dan bermartabat. Sementara masyarakatnya taat, berbudaya dan rasional atau memiliki kesadaran hukum yang tinggi.
Secara resmi Maspolin dibentuk tanggal 22 September 2016 ditandai dengan dibuatnya Grup Facebook Maspolin, dilanjutkan Grup WhatsApp Forum Diskusi Maspolin. Disinilah keajaiban demi keajaiban muncul. Dalam waktu singkat segera bergabung para aktifis medsos yang biasa disebut Netizen, bahkan para polisi aktif dari berbagai tingkatan secara antusias ikut membesarkan Maspolin.
Dari hasil diskusi online tanpa tatap muka, segera terbentuk struktur organisasi redaksi Maspolin dilanjutkan lahirnya media online dalam bentuk domain maspolin.com. Semua terjadi tanpa tatap muka dan tanpa surat perintah, hanya bermodal semangat, keyakinan dan kepercayaan para pegiatnya.
Saya termasuk salah satu pendiri dan pegiat yang merasakan secara langsung keajaiban Maspolin. Belum ada sebulan sejak lahirnya Maspolin, tepatnya tanggal 13 Oktober 2016, saya bersama Ibu Tatiana Razaini melakukan roadshow ke Jawa Timur. Atas doa dan dukungan sang penggagas sekaligus sesepuh Maspolin, Bang Stanley Sumampouw kami mengunjungi Bojonegoro, Tuban dan Trenggalek.
Keajaiban itu bernama kehangatan. Hanya dari komunikasi dunia Maya, grup WhatsApp dan Facebook kita terhubung dan mengenal, namun sahabat-sahabat Maspolin dan jajaran Polres di tiga kota tersebut begitu luar biasa menyambut kami lakukan suadara yang sudah lama saling mengenal. Kehangatan, keakraban dan antusias ditunjukkan para Kapolres dan jajarannya. AKBP Wahyu Sri Bintoro di Bojonegoro, AKBP Fadly Samad di Tuban, AKBP I Made Agus Prasatya di Trenggalek adalah bagian dari kemustahilan ini. Salut dan kehormatan yang tidak terhingga dengan sambutan hangatnya.
Sahabat-sahabat Netizen dan jurnalis hebat di tempat yang kami kunjungi juga ikut membesarkan dan memberi warna pada Maspolin. Sahabat dan guru, Imam Nurcahyo dengan pengalaman dan punggawa BBC nya, Mustain dengan jam terbang tingginya, Iim Tuban dengan semangat juangnya, Fals Trenggalek dengan keramahannya dan semua sahabat Netizen di berbagai Polres sangat luar biasa.
Akhir tahun 2016 adalah momentum bagi Maspolin. Jajaran perwira aktif dari berbagai Polres dan Polda memberikan perhatian dan dukungan yang luar biasa pada Maspolin. Lahirlah grup WhatsApp dan Facebook baru yang dikelola oleh Maspolin.
Apresiasi dan terimakasih setulus-tulusnya pada para senior korps Tribrata yang selalu monitor dan menjadikan keajaiban Maspolin menjadi kenyataan. Karo Penmas Polri (Brigjend Rikwanto SA), Irwasda Polda Sulteng (Kombes Pol Dwi Setyadi), Kabid Humas Polda Sultra (AKBP Narto), Wadir Narkoba Polda Sumut (AKBP Yossy Runtukahu), Dit Narkoba Polda Jatim (AKBP Soenardi), Kasubbit Provost Bid Propam Polda Jatim (AKBP Agus Widodo), Baharkam Polri (AKBP Takdir Matanette).
Sahabat-sahabat di Kampar provinsi Riau juga luar biasa. Dibawah komando AKBP Edy Sumardi Priadinata, Kampar menjadi Polres yang paling aktif di Sumatera. 
Kapolres Probolinggo Kota (AKBP Hando Wibowo), Kapolres Probolinggo Kabupaten (AKBP Arman), Kapolres Trenggalek yang baru, AKBP Donny Adityawarman, Kapolres Kota Batu Malang (AKBP Leonardus Simarmata), Kapolres Touna Sulteng (AKBP Bagus Setiyono).
Perwira muda hebat dan penuh semangat di Mabes Polri, Kompol Bayu Suseno, Polwan hebatPolda DIY, Kompol Sinungwati, Wakapolres Nunukan Kaltim (Kompol Rizal), Wakapolres Trenggalek (Kompol Kuswara), Wakapolres Bojonegoro (Kompol Andrian), Wakapolres Probolinggo Kota (Kompol Djumadi), Wakapolres Madiun Kabupaten (Kompol Ary) dan seluruh keluarga besar korps Bhayangkara yang tidak bisa disebut satu persatu. Merekalah yang membuat pegiat Maspolin makin bersemangat dan yakin dengan visinya.
Semoga di tahun yang baru, 2017, Maspolin makin baik dan makin bisa berbuat lebih baik untuk kejayaan Institusi Polri juga Ibu Pertiwi…
Salam Promoter 
Arief Luqman El Hakiem (Redaktur Pelaksana Maspolin).

Minggu, 15 Januari 2017

MERINDUKAN SOSOK POLISI HOEGENG IMAM SANTOSO


Saudaraku, otoritas negara memainkan peran fundamental dalam penegakan HAM. Menurut hukum hak asasi manusia sebagaimana dinyatakan dalam International Bill of Human Rights, pertanggungjawaban untuk mewujudkan hak asasi manusia dalam hukum internasional berada di tangan negara.

Salah seorang figur polisi sebagai aparat negara yang dikenang sebagai penegak keadilan dan kemanusiaan yang gigih adalah Hoegeng Imam Santoso. Sedemikian legendarisnya nama ini, sehingga Gus Dur secara berseloroh pernah berkata, “Hanya ada 3 polisi yang tak bisa disuap: patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng.”

Lahir di Pekalongan, 14 Oktober 1921, Hoegeng berasal dari keluarga sederhana, sekalipun ayahnya tergolong priyayi karena menjadi ambtenaar di Pemerintah Hindia Belanda. Menjadi polisi sebenarnya bukanlah cita-cita awalnya. Setelah menempuh pendidikan HIS, MULO dan AMS, ia melanjutkan kuliah ke Sekolah Tinggi Hukum, Recht Hogeschool  (RHS) di Batavia. Namun, kuliahnya ini tidak bisa diselesaikan, karena Jepang keburu masuk yang membuat RHS dibekukan.  

Sambil menunggu panggilan bekerja di Radio Hoso Kyoku, Hoegeng mengikuti Kursus Kepolisian di Pekalongan. Lulus dari sana, ia ditempatkan di Kantor Jawatan Kepolisian Keresidenan Pekalongan. Pekerjaan ini ia jalani dengan setengah hati. Selain disiplinnya yang sangat ketat, ia juga kecewa bahwa sebagai jebolan RHS pangkat yang diperolehnya tergolong rendah, yaitu dua tingkat di bawah Inspektur Polisi Kelas II atau bintara.

Namun, garis tangannya menghendaki Hoegeng berjuang melalui jalur ini. Pada suatu  ketika, dibuka lowongan untuk mengikuti pendidikan lanjutan untuk menjadi kader tinggi kepolisian di SPN Sukabumi. Sebenarnya, Hoegeng  tidak tertarik. Namun, ia didaftarkan oleh Wakil Kepala Kepolisian Keresidenan  Pekalongan, Komisaris Polisi Kelas 1 Soemarto, untuk mengikuti pendidikan tersebut. Meski tidak sepenuh hati mengikuti tes seleksi, Hoegeng ternyata lulus, yang membuatnya kian mendalami ilmu kepolisian. Tahun 1950, Hoegeng mengikuti Kursus Orientasi di Provost Marshal General School pada Military Police School Port Gordon, George, Amerika Serikat. Setelah itu, pada 1952, ia berhasil menyelesaikan pendidikan kepolisiannya di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Jakarta.

Tugas pertamanya setelah menyelesaikan pendidikan kepolisian adalah sebagai Kepala Dinas Pengawasan Kemananan Negara (DKPN) di Kepolisian Provinsi Jawa Timur. Tetapi reputasinya sebagai penegak hukum mulai terlihat jelas saat menjadi Kepala Direktorat Reserse dan Kriminal (Ditreskrim) Kantor Kepolisian Provinsi Sumatera Utara, sejak1956. Bertugas di Medan saat itu bagi seorang polisi muda tidaklah mudah. Medan dikenal bukanlah tempat yang ramah bagi polisi yang jujur dan tak kenal kompromi, tetapi menggiurkan bagi mereka yang mau melanggar hukum.

Ujian pertama sebagai polisi segera Hoegeng hadapi begitu ia dan keluarganya tiba di Pelabuhan Belawan. Ia disambut oleh seorang pengusaha bertubuh gemuk, yang mengaku sebagai Ketua “Panitia Selamat Datang”, yang dibentuk oleh sejumlah pengusaha Medan. Pengusaha itu memberitahukan bahwa mereka sudah menyediakan rumah dan kendaraan bagi Hoegeng. Hoegeng juga siap diantar kesebuah hotel yang telah disiapkan panitia.  

Namun, Hoegeng menolak secara halus dengan mengatakan bahwa fasilitas-fasilitas tersebut sebaiknya ditahan saja dulu. Ia juga akan segera memberitahukan panitia sekiranya memang memerlukan hotel. Setibanya di rumah dinas, di Jalan Rivai, Medan, Hoegeng juga mendapat kiriman sejumlah barang perabotan rumah tangga dari pengusaha Medan, seperti mesin cuci, kulkas dan mesin jahit.

Awalnya Hoegeng menolak secara halus agar si pengirim barang segera mengambil kembali barang-barang tersebut. Jika tidak diambil, ia akan mengeluarkannya dari rumah. Namun, pengusaha itu   bersikeras tidak mau mengambilnya. Karena tidak diambil juga, Hoegeng pun mengeluarkan sendiri barang-barang tersebut, yang ia letakkan begitu saja di depan rumahnya, hingga akhirnya barang-barang itu pun rusak terkena hujan dan terik matahari.  

Karena tak mau kompromi, Hoegeng pun tak jarang mendapatkan ancaman pembunuhan. Salah satunya, saat ia dijadikan sasaran penembak jitu (sniper) ketika ia bertugas di kawasan pinggiran hutan Kota Medan. Beruntung, ia lolos dari maut, tetapi pelaku penembakan sendiri tidak berhasil ditangkap (Suhartono, 2013: 47-53).

Ketika diangkat menjadi Kepala Kepolisian Negara (tahun 1969 namanya menjadi Kapolri), pada 5 Mei 1968, Hoegeng menolak tinggal di rumah dinas Kapolri di Jalan Patimura. “Wah, Hoegeng tidak mau nanti jika sudah pensiun, Hoegeng tidak punya rumah tinggal lagi, ”ujarnya. Alhasil, ia tetap tinggal di rumah sewaannya di daerah Menteng.

Selain menolak fasilitas, Hoegeng juga berulangkali menolak hadiah yang terkait dengan jabatan. Suatu ketika, Didit, putra lelakinya, sepulang sekolah terkejut mendapati kiriman dua motor yang masih terbungkus plastik yang diletakkan di dekat kamarnya.

“Semoga Papi tidak menolak.Mungkin kalau motor boleh. Daripada tidak dapat mobil, Lambretta pun lumayan,” pikirnya penuh harap. Ketika Hoegeng pulang kantor di sore hari, Didit yang mengintip dari lubang angin kamarnya melihat ayahnya memanggil ajudan begitu melihat dua motor Lambretta tersebut.

Sesaat setelah melihat jam tangan, ia pun berkata, “Ini masih jam 16.00, masih ada orang di kantornya. Tolong motor ini dikembalikan lagi kepengirimnya. ”Didit yang mendengar perintah ayahnya hanya bisa mengelus dada sambil bergumam dalam hati, “Ya, pahit lagi.”

Selain itu, masih teringat oleh Didit bahwa sebagai Kapolri, ayahnya berhak mendapat tanah kavling seluas 2.000 meter persegi di Komplek Polri Ragunan. Namun, kavling itu pun ditolak oleh ayahnya, dan lebih memilih tetap tinggal di rumah sewaannya di Jalan Madura.

Pengalaman seperti itu membuat Didit sering kecewa, meski dikemudian hari ia merasa syukur dan bangga atas sikap keteladanan Bapaknya (Suhartono,2013: 40, 71).

Setidaknya ada  dua kejadian penting menyangkut penegakan keadilandan HAM ketika Hoegeng menjadi orang nomor 1 di Kepolisian. Pertama, kasus perkosaan yang menimpa seorang perempuan penjual telur berusia 18 tahun yang terkenal dengan sebutan kasus Sum Kuning, yang terjadi pada   1970.  

Konon perkosaan ini dilakukan anak petinggi di Yogyakarta. Ironisnya, korban perkosaan sendiri malah ditahan karena dituduh memberikan laporan palsu. Kasus ini makin menarik perhatian masyarakat karena persidangannya dilakukan secara tertutup. Bahkan wartawan yang menulis berita peristiwa ini harus berurusan dengan militer.  

Kemudian peristiwa ini melebar, sampai korban perkosaan ini dituduh sebagai anggota Gerwani-PKI. Kemudian dihadirkan pula seorang penjual bakso yang disangkakan sebagai pelaku pemerkosaan yang tentu saja dibantahnya di pengadilan.  

Lantas ada pula 10 pemuda yang disuruh mengaku sebagai pemerkosa, juga menyangkal melakukan pemerkosaan, bahkan bersumpah rela mati jika memerkosa. Pada Januari 1971, Hoegeng membentuk Tim Pemeriksa Sum Kuning.

Ia menegaskan, “Perlu diketahui bahwa kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, walaupun keluarga sendiri, kalau salah tetap kita tindak. Geraklah the sooner the better. ”Belakangan Presiden Soeharto turun tangan menghentikan kasus Sum Kuning. Dalam pertemuan di istana, Soeharto memerintahkan kasus ini ditangani oleh Tim Pemeriksa Pusat Kopkamtib.

Kasus satu lagi adalah penyelundupan mobil mewah bernilai milyaran rupiah yang dilakukan Robby Tjahjadi. Tetapi penangkapan Robby tak membuatnya ditahan, karena hanya mendekam beberapa jam di tahanan polisi setelah ada jaminan dari seseorang. Tentu orang besar dan berpengaruh yang menjaminnya. Tetapi, Hoegeng tak merasa takut. Pada saat Robby melakukan penyelundupan mobil mewah lagi, bukan hanya Robby yang ditahan tetapi juga  pejabat yang  menerima uang sogokan dari Robby juga ditangkap.

Ketegasan Hoegeng memang bukan cuma dalam menegakkan aturan tetapi juga dalam mencegah kemungkinan terjadinya pelanggaran aturan. Itu terbukti saat istrinya, Merry Roeslani, hendak membantu mencari nafkah dengan membuka toko bunga. Toko bunga itu rupanya cukup   baik   perkembangannya.  

Pada 1960, sehari sebelum dilantik sebagai kepala Jawatan Imigrasi (kini, Dirjen Imigrasi) Hoegeng meminta istrinya menutup toko bunganya. Alasannya, “Nanti semua orang yang berurusan dengan imigrasi akan memesan kembang pada toko kembang ibu, dan ini tidak adil untuk toko-toko kembang lainnya,” jelas Hoegeng.

Hoegeng membuktikan bahwa gelimang harta bukan satu-satunya carau ntuk bisa hidup bahagia. Masa pensiun Hoegeng diisi dengan kegemarannya bermain musik dan melukis. Ia bergabung dalam grup musik Hawaiian Seniors yang sering tampil di  TVRI pada 1970-an. Sedangkan dari hobinya melukis, Hoegeng menjual beberapa lukisannya untuk menafkahi keluarga. Dengan mati, Hoegeng abadi!

(Makrifat Pagi bersama Kang Yudi Latif)

Rabu, 26 Oktober 2016

IRONI SABER PUNGLI ; AMBISI MINUS AMUNISI Surat Terbuka Untuk Presiden Republik Indonesia ( Ir. H. Joko Widodo )

Kepada,
Yth. Presiden Republik Indonesia
( tembusan kepada Meneteri PAN-RB, Panglima TNI dan Kapolri )
Di JAKARTA

Assalamu alaikum warahmatullahi wa barakatuh…
Semoga keselamatan tercurah atas orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya,

Pak Presiden yang terhormat…
Perkenankan saya menyampaikan uneg-uneg dan isi hati saya terkait gerakan bersih-besih pungutan liar dalam pelayanan pablik yang ramai dibicarakan akhir-akhir ini.

Saya menulis surat ini bukan karena saya sok tahu ato sok pintar, tetapi sebagai bentuk  kepedulian dn dukungan saya kepada setiap upaya dan program dari pemerintah yang bertujuan baik, menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera.

Pertama-tama, saya mengapresiasi dan ikut mendoakan, atas terbentuknya Satgas Saber Pungli (Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar), yang Anda tuangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2016, dan telah Anda tanda tangani, semoga ke depan Indonesia makin baik dan bersih, sehingga rahmat dan berkah Allah SWT dibuka dari pintu langit dan bumi.

Pak Presiden yang terhormat…
Beberapa kasus pungli yang tertangkap tangan selalu melibatkan petugas lapangan di tingkat pelaksana pelayanan publik, baik itu jajaran staf di Dinas Perhubungan, para brigadir di jajaran Polisi Lalu Lintas maupun para staf di Badan Perijinan.

Bukan bermaksud menggurui atau meng-kuliahi, menurut saya pungli adalah culture yang sudah mengakar di masyarakat Indonesia. Terjadinya pungli bukan mutlak kesalahan para petugas pelayanan publik, tetapi lebih merupakan kesempatan dan kesepakatan. Pungli adalah transaksi yang melibatkan dua pihak. Pengendara sepeda motor yang melanggar seringkali menawarkan “uang damai” agar tidak perlu sidang atau membayar denda dibawah ketentuan. Para sopir truk memberikan pelican agar muatan yang melebihi tonase dapat lolos dari jembatan timbang. Para pembuat SIM memilih lewat jalur belakang agar tidak perlu ujian dan mengantri.

Jadi, untuk memberantas pungli perlu juga mereformasi mental masyarakat kita agar taat hukum dan prosedur, siap antri dan tidak lagi menggoda petugas dengan tawaran uang damai.

Pungli juga mirip dengan suap, seringkali karena keserakahan masyarakat dalam hal ini pengusaha. Untuk mendapatkan quota yang lebih besar dalam impor barang seperti gula, daging dan komoditas kebutuhan lainnya, mereka menyuap para pembuat kebijakan. Untuk memenangkan tender proyek, para pengembang menyuap panitia lelang. Itulah kenapa pungli adalah kesempatan dan kesepakatan, kesepakatan untuk berbuat jahat dan melanggar peraturan. Jadi kalau para pelaku pungli dikenai sanksi, para pemberi dari kalangan masyarakat pun harus mendapat sanksi juga.

Pak Presiden yang terhormat…
Jika kita mau jujur, pungli ini terjadi tidak hanya melibatkan para petugas dengan masyarakat. Pungli juga terjadi antara atasan kepada bawahannya. Pungli terjadi karena tuntutan kebutuhan dan keterpaksaan. Gaji dan tunjangan yang tidak memadai sering menjadi alasan para staf dan petugas di lapangan melakukan pungli. Biaya operasional yang tidak mencukupi juga merupakan alasan lainnya.

Pada saat yang sama, tradisi upeti dan setoran dari bawahan kepada atasan juga ikut menyumbang maraknya budaya pungli. Mekanisme rotasi dan promosi jabatan yang tidak transparan juga berpotensi terjadinya pungli. Sudah rahasia umum bahwa para atasan yang menentukan kebijakan rotasi dan promosi jabatan sering melakukan pungli kepada bawahannya dengan kompensasi kenaikan pangkat dan iming-iming jabatan strategis.

Faktor di luar kinerja dan kompetensi justru yang menjadi pertimbangan utama dalam merotasi dan mempromosikan pegawai. Pegawai yang pintar melayani atasannya dan rajin mengirim upeti biasanya lebih cepat karirnya. Belum lagi kebiasaan para pejabat yang meminta pelayanan lebih ketika melakukan kunjungan ke daerah. Sambutan dan fasilitas diatas standar memerlukan biaya tinggi dan anggaran lebih. Ditambah turut serta istri pejabat dengan hoby shoping-nya, membuat para pegawai di daerah kalang kabut menyiapkan anggaran ekstra untuk untuk meng-entertaint.

Faktor-faktor di atas ikut menyumbang tumbuh suburnya budaya pungli. Sehingga pungli tidak hanya dilakukan oleh para petugas yang melakukan pelayan publik, tetapi juga oleh para atasan kepada bawahannya. Para staf mengambil dari masyarakat untuk melayani dan memuaskan pejabat atau atasannya.

Pak Presiden yang terhormat…
Saya teringat credo dari tokoh bangsa, Kyai Haji Agus Salim, Leiden is Lijden (memimpin adalah menderita), memimpin adalah melayani bukan dilayani, pemimpin adalah pelayan. Dalam struktur kepemimpinan kita mengenal ada hirarki, mulai dari top leader/ top manager (pimpinan puncak /tertinggi), medium manager (pimpinan menengah), low manager (pimpinan terendah) baru petugas dan staf yang memimpin dan melayani secara langsung kebutuhan masyarakat.

Di instansi pemerintahan, low manager ini mungkin para supervisor, kasi dan kasubag, medium manager adalah para kabag sedangkan top managaer adalah kepala departemen sampai ke presiden. Di jajaran kepolisian, juga ada hirarki dari kasi, kasubag, kasat, kapolres, kapolda, kapolri hingga ke presiden.

Jika kita mengikuti credo KH Agus Salim, maka seharusnya setiap jenjang kepemimpinan adalah pelayan bagi jenjang di bawahnya. Presiden adalah pemimpin para menteri, artinya pelayan yang wajib malayani kebutuhan menterinya. Menteri adalah pelayan dirjen dan direktur, dirjen pelayan kabag, kasubag dan kasi. Kabag adalah pelayan para staf dan petugas lapangan. Staf dan petugas adalah pelayan yang wajib melayani masyarakat. Dalam institusi polri juga demikian. Kapolri adalah pelayan kepala divisi, direktur dan kapolda. Direktur dan kapolda adalah pelayan kabag /kabid dan kapolres. Kapolres adalah pelayan para kasat dan kabag. Kasat adalah pelayan staf dan petugas lapangan. Staf dan petugas lapangan inilah yang secara langsung melayani masyarakat.

Prinsip memimpin adalah melayani harus dimulai dari atas. Seorang presiden harus melayani dan mencukupi kebutuhan anak buahnya agar anak buah dengan bahagia dan semangat melayani masyarakat. Panglima TNI dan Kapolri juga harus mencukupi kebutuhan dan membela kepentingan para parjurit agar mereka memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Jangan dibalik…!!!

Pak Presiden yang terhormat…
Jika rerformasi birokrasi dan revolusi mental para pejabat ini betul-betul diterapkan, maka budaya pungli dan suap akan mudah dihilangkan. Namun jika kebutuhan dan kepentingan para bawahan diabaikan maka yang terjadi adalah munculya rasa frustasi dan demotivasi. Para bawahan yang menjadi petugas pelayanan akhirnya menjadi pihak yang terjepit dan tergencet, disatu sisi harus memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat, pada saat yang sama juga harus melayani atasannya, sementara kebutuhannya tidak tercukupi sebagaimana mestinya.

Menurut saya, Gerakan Saber Pungli memerlukan pra-kondisi untuk menjamin keberhasilan yang memuaskan. Yang pertama adalah Revolusi Mental para pejabat dan rakyat. Rakyat harus mulai dipaksa taat aturan, ikut prosedur dan menanamkan budaya antri. Mindset para para pajabat harus diubah, bahwa kepemimpinan adalah amanah dan pelayanan, menjadi pemimpin itu melayani bukan dilayani.

Kedua, reformasi birokrasi secara total. Dimana sejak proses rekriutmen hingga rotasi dan mutasi harus transparan dan bebas dari upeti dan setoran. Para pejabat tidak boleh lagi menuntut pelayanan lebih ketika mengadakan kunjungan ke daerah, tidak ada anggota keluarga dan para istri yang berbelanja dengan uang negara.

Ketiga, pemerintah harus meninjau ulang gaji dan remunerasi para pegawai sehingga tercukupi kebutuhan dengan layak. Tidak ada lagi alasan mencari uang tambahan untuk menutup kebutuhan.

Keempat, seluruh infrastruktur dan perangkat teknologi untuk pelayanan publik harus disiapkan dengan anggaran negara sehingga kualitas pelayan merata di setiap lini dan instansi.

Pak Presiden yang terhormat…
Suatu program tanpa persiapan matang hanya akan berhenti pada pencitraan. Gerakan Sapu Bersih Pungli tanpa pra-kondisi ibarat "ambisi minus amunisi".

Bapak Panglima TNI dan Bapak Kapolri yang terhormat…
Jangan korbankan dan permalukan para prajurit di lapangan dengan banyaknnya kasus tangkap tangan. Mereka dituntut bersih dan prima dalam pelayanan, namun kebutuhan dan kepentingan mereka diabaikan. Marilah saling menunaikan kewajiban agar gerakan bersih-bersih ini membuahkan hasil gemilang. Kita semua merindukan tatanan masyarakat yang tertib, teratur dan beradab dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pak Presiden yang terhormat…
Demikian surat terbuka saya, ada salah dan khilafnya, saya mohon maaf…

Jakarta, Kamis Kliwon 27 Oktober 2016 M / 26 Muharam 1438 H
Hormat saya,
Arief Luqman el Hakiem